Penulis Utama : Reza Ayu Kusumawati
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : H0718135
Tahun : 2022
Judul : Hubungan Bacillus sp. Endofit Bawang Merah pada Kesupresifan Tanah terhadap Penyakit Moler di Brebes Jawa Tengah
Edisi :
Imprint : Surakarta - Fak. Pertanian - 2022
Kolasi :
Sumber :
Subyek : -
Jenis Dokumen : Skripsi
ISSN :
ISBN :
Abstrak :

Brebes Jawa Tengah termasuk salah satu penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Penurunan produktivitas dari tahun ke tahun disebabkan oleh penyakit moler (Fusarium oxysporum f.sp. cepae). Pada jenis tanah yang sama dengan perlakuan yang sama memiliki intensitas penyakit yang berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena tingkat kesupresifan tanah. Tanah supresif memiliki aktivitas mikroba yang dapat bersifat antagonis pada patogen tular tanah. Pengendalian penyakit berbasis kesupresifan tanah dapat dilakukan melalui seleksi mikroba antagonis dari hasil isolasi tanah supresif sebagai agen pengendali hayati. Bacillus sp. merupakan salah satu bakteri endofit isolat tanah supresif yang mampu menekan pertumbuhan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji hubungan Bacillus sp. terhadap kesupresifan tanah di Brebes Jawa Tengah serta mengkaji hubungan Bacillus sp. terhadap penyakit moler (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) di Brebes Jawa Tengah.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan Laboratorium Terpadu Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2021 hingga Juli 2022. Pengambilan sampel dilaksanakan secara Purposive Randome Sample. Bacillus sp. endofit bawang merah diisolasi menggunakan metode Purwanto et al. (2014) dengan pengenceran berseri. Hubungan antara Bacillus sp. dengan kesupresifan tanah diukur melalui populasi Bacillus sp. pada tanah. Untuk menguji hubungan Bacillus sp. tehadap Fusarium oxysporum f.sp. cepae dilakukan menggunakan uji dual culture, uji kultur filtrat antibiosis, uji volatil antibiosis, uji HCN, uji IAA, uji aktivitas kitinase. Uji dual culture dilakukan dengan metode metode Ainy et al. (2015) dan uji volatil antibiosis dilakukan dengan metode Widiantini et al. (2020) yang dihitung menggunakan rumus: Presentase Hambatan=  (R1-R2)/R1  ×100%. Uji kultur filtrat antibiosis dilakukan dengan metode Malinda et al. (2015) yang dihitung menggunakan rumus: Presentase Hambatan =(d1-d2)/d1×100%. Uji IAA dilakukan menggunakan metode Larosa et al. (2013) yang diukur melalui perubahan indikator warna dan nilai absorbansi. Uji HCN dilakukan menggunakan metode Aprilia et al. (2014) yang diukur melalui perubahan indikator warna. Uji kitinase dilakukan menggunakan metode Pangemanan et al. (2020) yang diukur menggunakan indikasi pertumbuhan koloni pada media kitin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus sp. pada jaringan bawang merah dari tanah supresif memiliki populasi lebih banyak dari pada jaringan bawang merah dari tanah kondusif. Populasi Bacillus sp. pada jaringan bawang merah tanah supresif sebanyak 9,33 x 104 CFU.g-1 jaringan sedangkan pada jaringan bawang merah tanah kondusif memiliki populasi Bacillus sp. sebanyak 1,67 x 102 CFU.g-1 jaringan. Bacillus sp. mampu menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum melalui beberapa cara yaitu senyawa antibiosis yang teridiri dari filtrat antibiosis dan volatil antibiosis, senyawa asam sianida (HCN), IAA, dan enzim kitinase.

 

File Dokumen Tugas Akhir : abstrak.pdf
Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Halaman Cover.pdf
Daftar Pustaka.pdf
File Dokumen Karya Dosen : -
Status : Public
Pembimbing : 1. Ir. Susilo Hambeg Poromarto, M.Sc., Ph.D.
2. Prof. Dr. Ir. Hadiwiyono, M.Si.
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. Pertanian