Jagung merupakan salah satu komoditas pangan utama
setelah padi. Kebutuhan jagung nasional terus meningkat seiring dengan
tingginya permintaan industri. Provinsi Jawa Tengah menjadi produsen jagung terbesar kedua di
Indonesia, dengan Kabupaten Grobogan menyumbang sekitar 29,3% produksi jagung
provinsi. Luas panen jagung menunjukkan tren meningkat dari tahun 2020 – 2024,
namun belum diikuti peningkatan pendapatan petani. Berbagai
kendala seperti rendahnya efisiensi teknis, kelangkaan dan kenaikan harga input
produksi, tingginya biaya tenaga kerja, serta fluktuasi harga jual jagung
memengaruhi tingkat pendapatan usahatani. Kondisi tersebut turut memengaruhi
kontribusi usahatani jagung terhadap total pendapatan rumah tangga petani,
sehingga banyak rumah tangga petani melakukan diversifikasi sumber pendapatan
baik di sektor pertanian maupun non-pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya
pendapatan usahatani jagung, menganalisis kontribusi
pendapatan usahatani jagung terhadap total pendapatan rumah tangga petani, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi
pendapatan usahatani jagung di Kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan penentuan
sampel menggunakan metode purposive sampling yang melibatkan 60 petani
sebagai responden. Analisis data dilakukan dengan analisis kontribusi
pendapatan usahatani dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani jagung
di Kabupaten Grobogan adalah Rp4.908.647 per musim tanam dengan rata-rata
luas lahan 0,3984 hektare. Kontribusi pendapatan usahatani jagung
terhadap pendapatan rumah tangga petani di Kabupaten Grobogan sebesar 10,18%. Meskipun
demikian, sektor pertanian tetap menjadi sumber utama pendapatan rumah
tangga petani, di mana selain dari usahatani jagung, proporsi pendapatan dari
usahatani selain jagung sebesar Rp1.977.379 (49,22%). Sementara itu,
kontribusi pendapatan non-pertanian sebesar Rp1.630.592 (40,60%) juga menunjukkan peran
penting dalam keseimbangan ekonomi rumah tangga. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan
usahatani jagung meliputi luas lahan, jumlah produksi, biaya pupuk urea, biaya
benih, biaya tenaga kerja, dan harga jual. Peningkatan
jumlah produksi dan harga jual jagung berdampak positif terhadap kenaikan
pendapatan usahatani. Sebaliknya, peningkatan pengeluaran untuk biaya pupuk
urea, benih, dan tenaga kerja menurunkan pendapatan yang diterima petani. Oleh karena itu,
diperlukan upaya adopsi praktik budidaya yang lebih
efisien untuk menekan biaya
produksi, sehingga pendapatan usahatani jagung dapat meningkat dan
kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga menjadi lebih signifikan.