Kawasan wisata kota merupakan salah satu elemen penting dalam pengembangan perkotaan yang berkelanjutan, khususnya dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi pejalan kaki. Konsep walkability menjadi indikator penting dalam menilai sejauh mana suatu kawasan mampu mendukung aktivitas berjalan kaki yang aman, nyaman, dan menarik. Tingkat walkability dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti geometri jalur, fasilitas pendukung, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, konektivitas, serta daya tarik kawasan. Oleh karena itu, pengukuran walkability diperlukan untuk mengetahui kualitas jalur pejalan kaki dalam mendukung fungsi kawasan wisata kota.Pahlawan Street Center di Kota Madiun merupakan kawasan hasil revitalisasi yang dikembangkan sebagai kawasan wisata kota berbasis pejalan kaki. Kawasan ini memiliki daya tarik visual dan aktivitas yang tinggi serta didukung dengan berbagai fasilitas pedestrian. Namun, meskipun telah mengalami peningkatan kualitas infrastruktur, masih terdapat beberapa permasalahan seperti hambatan samping, keterbatasan fasilitas disabilitas, serta ketidakseimbangan kualitas antar segmen jalur pejalan kaki.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat walkability kawasan wisata kota di Pahlawan Street Center Kota Madiun. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis skoring berdasarkan variabel walkability yang meliputi geometri jalur, fasilitas pendukung, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, konektivitas, dan daya tarik kawasan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner kepada pengguna, serta data sekunder, yang kemudian dianalisis menggunakan sistem skoring untuk menentukan tingkat walkability tiap segmen kawasan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat walkability kawasan Pahlawan Street Center Kota Madiun berada pada kategori tinggi dengan nilai sebesar 77,78%. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah mampu mendukung aktivitas berjalan kaki dengan baik sebagai kawasan wisata kota. Namun demikian, masih terdapat variasi kualitas antar segmen, di mana beberapa segmen memiliki tingkat walkability yang lebih rendah akibat keterbatasan fasilitas, hambatan fisik, dan kurang optimalnya aksesibilitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas secara merata guna menciptakan kawasan yang lebih inklusif, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh pengguna.