Kabupaten Sukoharjo merupakan wilayah peri
urban Kota Surakarta yang menghadapi tekanan urbanisasi dan industrialisasi
tinggi sehingga mendorong konversi lahan pertanian dan vegetasi menjadi lahan
terbangun secara masif. Hal ini berimplikasi pada peningkatan suhu permukaan
lahan (LST). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan
tutupan lahan terhadap suhu permukaan
lahan di Kabupaten Sukoharjo dalam rentang tahun 2003 hingga 2024. Penelitian
ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan memanfaatkan teknologi
penginderaan jauh berbasis Citra Landsat 7 ETM+ (2003) dan Landsat 8 OLI/TIRS
(2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan terbangun di Kabupaten
Sukoharjo meningkat signifikan dari 23,36%
menjadi 36,23%, sementara tutupan hijau menurun dari 75,57% menjadi
62,59%. Peningkatan lahan terbangun ini diikuti oleh kenaikan suhu permukaan
rata-rata dari 23°C menjadi 27°C. Secara spasial, klaster suhu tinggi yang
semula terkonsentrasi di wilayah utara seperti Kecamatan Grogol dan Kartasura,
meluas ke wilayah timur seiring masuknya kawasan industri baru. Hasil analisis
OLS menunjukkan bahwa NDBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap LST, di
mana setiap peningkatan indeks kerapatan bangunan sebesar 0,1 meningkatkan LST
sebesar 0,56–2,18°C. Sementara itu, NDWI berpengaruh negatif pada 2003, namun
pengaruhnya melemah bahkan berbalik arah pada 2024 akibat dominasi lahan
terbangun di sekitar badan air. Analisis MGWR mengonfirmasi bahwa pengaruh NDBI
semakin bersifat lokal dan terkonsentrasi pada kawasan dengan pembangunan
intensif, sedangkan pengaruh NDWI berkembang menjadi lebih luas secara spasial.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerapatan bangunan atau keberadaan lahan
terbangun merupakan faktor dominan dalam peningkatan suhu permukaan lahan di
Kabupaten Sukoharjo dibanding indeks kebasahan atau keberadaan badan air.