Fase perkembangan remaja merupakan masa transisi yang rentan memicu perilaku
menyimpang, sebagaimana tercermin dari maraknya perundungan dan tawuran
pelajar di Surakarta. Munculnya perilaku menyimpang ini mengindikasikan adanya
kecenderungan remaja untuk melakukan moral disengagement, yaitu mekanisme
kognitif yang membuat individu mampu membenarkan tindakan amoralnya tanpa
merasa bersalah. Kecenderungan moral disengagement ini dapat ditekan melalui
kapasitas empati yang memadai. Respon empati berfungsi sebagai faktor
pelindung dalam menekan proses moral disengagement. Berangkat dari hal
tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan negatif antara empati
dengan moral disengagement pada remaja SMA di Surakarta. Pengumpulan data
dilakukan dengan melibatkan 389 partisipan remaja berusia 15-18 tahun berstatus
sebagai siswa aktif SMA di Surakarta. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan
proportionate stratified random sampling di lima wilayah kecamatan. Variabel
penelitian diukur menggunakan instrumen Mechanisms of Moral Disengagement
Scale (MMDS-S) yang dikembangkan oleh Bandura et al. (α = 0,861), dan
Interpersonal Reactivity Index (IRI) (α = 0,756). Analisis data dilakukan
menggunakan uji regresi linear sederhana dengan pendekatan bootstraping
menggunakan bantuan aplikasi IBM SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan
terdapat hubungan negatif yang signifikan antara empati dengan moral
disengagement (p = 0,006; b = -0,398). Nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,174
menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antara kedua variabel berada pada
kategori sangat lemah. Adapun nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,030, yang
bermakna bahwa empati memberikan sumbangan efektif sebesar 3% terhadap moral disengagement pada remaja SMA di Surakarta. Temuan ini
mengindikasikan bahwa empati dapat menekan kecenderungan moral
disengagement pada remaja, namun peranannya sangat lemah karena pada dasarnya proses moral disengagement turut dipengaruhi
oleh berbagai faktor lain di luar penelitian ini.