Masa
remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya kerentanan
terhadap berbagai perilaku menyimpang, seperti bullying, tawuran, dan pelanggaran
norma sekolah. Fenomena tersebut menunjukkan adanya permasalahan dalam
pengendalian perilaku moral pada remaja. Salah satu mekanisme kognitif yang
berperan dalam munculnya perilaku tersebut adalah moral disengagement,
yaitu proses pembenaran diri yang memungkinkan individu melanggar nilai moral
tanpa merasa bersalah. Salah satu faktor internal yang diduga berkaitan dengan moral
disengagement pada remaja adalah egosentrisme, yaitu kecenderungan individu
untuk memusatkan perhatian pada diri sendiri dan kurang mempertimbangkan sudut
pandang orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
egocentrism dengan moral disengagement pada remaja SMA di Surakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.
Partisipan berjumlah 389 siswa SMA di Surakarta yang dipilih menggunakan teknik
proportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah
Mechanisms of Moral Disengagement Scale (MMDS) dan Adolescent
Egocentrism Scale (AES). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi
Pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar
0,100 menunjukkan adanya hubungan antara egosentrisme dan moral
disengagement dengan arah positif dan kekuatan hubungan yang tergolong
sangat lemah. Nilai signifikansi (p) sebesar 0,048 menunjukkan bahwa hubungan antara kedua
variabel signifikan secara statistik. Hubungan yang positif mengindikasikan
bahwa semakin tinggi egosentrisme pada remaja, maka semakin tinggi pula
kecenderungan moral disengagement.