Perancangan ini
dilatarbelakangi oleh potensi pemanfaatan perca batik remekan Wonogiren yang
belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk fesyen bernilai tambah.
Perca batik remekan Wonogiren memiliki keragaman motif, warna, dan bentuk
potongan yang berpotensi dikembangkan menjadi komposisi visual baru melalui
proses rekonstruksi material. Perancangan ini bertujuan mengembangkan perca
batik remekan Wonogiren menjadi blus kerja semi formal wanita yang mampu
memenuhi kebutuhan fungsional pengguna sekaligus menghadirkan nilai estetika,
keberlanjutan, dan identitas lokal melalui pengolahan material yang kreatif.
Metode
perancangan yang digunakan adalah Material Driven Design (MDD) yang
dikembangkan oleh Karana et al. 2015. Metode ini menempatkan material sebagai
pusat proses perancangan sehingga karakteristik, potensi, dan pengalaman yang
dihasilkan material menjadi dasar dalam pengembangan desain. Proses
perancangan dilakukan melalui empat tahapan, yaitu Understanding Material,
Creating Material Experience Vision, Manifesting Material Experience Patterns,
dan Designing Material/Product Concepts. Melalui tahapan tersebut,
perancang mengeksplorasi karakteristik perca batik remekan Wonogiren,
merumuskan pengalaman material yang ingin dihadirkan, mengembangkan
alternatif desain, serta mewujudkannya menjadi produk fesyen. Hasil
perancangan berupa blus kerja semi formal wanita berbahan perca batik remekan
Wonogiren yang diolah melalui teknik quilting. Teknik tersebut digunakan
untuk merekonstruksi potongan perca menjadi komposisi visual baru yang
terinspirasi dari bentuk lanskap Wonogiri “Giri”.
Temuan
perancangan menunjukkan bahwa perca batik remekan Wonogiren memiliki potensi
untuk dikembangkan menjadi produk fesyen yang bernilai estetis, fungsional,
dan berkelanjutan. Proses rekonstruksi material melalui teknik quilting mampu
menghasilkan pengalaman visual dan tekstural yang berbeda dari kain batik
konvensional, sehingga dapat meningkatkan nilai guna dan nilai tambah
material sisa produksi