Kebaya
menjadi bagian dari busana tradisional perempuan Indonesia yang kaya akan
filosofi. Kebaya memiliki karakter yang khas dengan desain yang stabil sehingga
kurang dinamis dan membatasi fleksibilitas, serta kurang adaptif untuk
menunjang dinamika gaya hidup perempuan urban dengan peralihan satu kegiatan ke
kegiatan lainnya dalam waktu yang terbatas. Bermula dari hal tersebut, terdapat
ketidak seimbangan desain sebenarnya antara upaya pelestarian identitas budaya
bersamaan tuntutan fungsionalitas pada busana yang efisien teruntuk perempuan
dewasa awal usia 20-25 tahun. Kelompok usia tersebut diantaranya adalah
berprofesi sebagai mahasiswa perempuan tingkat akhir dengan pekerjaannya,
pekerja muda hingga pekerja senior. Pada umumnya, kelompok tersebut memiliki
mobilitas tinggi dalam kesehariannya. Terbukti dari jadwal aktifitas yang
padat. Tanpa disadari mereka dituntut untuk bertransisi dalam aktifitasnya
secara cepat. Mulai dari aktifitas formal baik itu dalam lingkungan akademis,
kantor, dan sebagainya, menuju mode aktifitas non-formal dalam hitungan satu
hari yang sama tanpa sempat untuk berganti pakaian. Urgensi perancangan ini
adalah menawarkan inovasi dalam perancangan kebaya menggunakan sistem convertible.
Hal tersebut menjadi tindakan pemecahan masalah atas efisiensi waktu dan
aspek fungsional bagi pengugunannya.
Berdasarkan
identifikasi permasalahan tersebut, tujuan perancangan ini adalah menerapkan sistem convertible pada kebaya yang adaptif mengenai pergantian aktifitas
formal ke kasual untuk perempuan dewasa awal dengan mobilitas tinggi. Metode pendekatan
pada perancangan dijalankan berdasarkan metode penciptaan seni kriya fungsional
oleh SP. Gustami. Secara sistematis metode ini terdiri dari tahapan ekplorasi,
tahap perancangan dan tahap perwujudan. Hasil akhir perancangan adalah
merealisasikan produk kebaya convertible dengan menyelaraskan visual
estetisnya menggunakan teknik batik tulis untuk desain permukaan pada kebaya.
Motif batik pada kebaya terinspirasi dari objek labirin. Pemilihan objek
labirin sebagai motif diaplikasikan seutuhnya sebagai metafora yang merepresentasikan
fenomena Quarter Life Crisis.