Penyakit
Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit virus yang sangat menular dan berdampak
besar terhadap produktivitas sapi potong, terutama di wilayah dengan populasi
ternak tinggi seperti Solo Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kejadian, persebaran, faktor penularan, gejala klinis, morbiditas dan
mortalitas, pengendalian, serta asosiasi penyakit PMK pada sapi potong di Solo
Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah survei melalui wawancara dan
observasi terhadap 54 peternak dengan total 221 ekor sapi sebagai sampel. Data dianalisis
menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan uji chi-square untuk
mengetahui hubungan faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1.839
kasus PMK pada periode 2022–2025. Puncak kejadian terjadi pada tahun 2022
sebanyak 1.181 kasus dengan jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Karanganyar
(564 kasus) dan Boyolali (472 kasus). Penurunan kasus terjadi secara bertahap
sejak tahun 2023 hingga tahun 2025 setelah puncak wabah pada tahun 2022. Penularan
utama terjadi melalui udara (44,2%) dan kontak langsung dengan ternak
terinfeksi (36,7%). Gejala klinis yang dominan meliputi demam, hipersalivasi,
lesi pada mulut dan kuku, serta penurunan nafsu makan. Tingkat morbiditas
tergolong tinggi, sedangkan mortalitas relatif rendah (<5%). Upaya
pengendalian yang dilakukan meliputi penerapan biosecurity, vaksinasi dan
pengobatan suportif. Hasil analisis faktor risiko menunjukkan bahwa ventilasi
kandang, biosecurity, vaksinasi, dan pemberian vitamin memiliki hubungan
yang signifikan (p<0,05) dengan kejadian PMK pada sapi potong. Kesimpulan
penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian PMK pada sapi potong di Solo Raya
paling tinggi terjadi pada tahun 2022 dan masih menjadi ancaman serius hingga
saat ini. Penerapan biosecurity
dan pengendalian yang tepat terbukti mampu menekan penyebaran penyakit secara
signifikan.