Kota Semarang saat ini menghadapi permasalahan iklim dengan suhu harian yang cukup tinggi akibat tingginya ketergantungan pada sistem energi fosil serta pertumbuhan penduduk yang pesat. Di sisi lain, indeks digitalisasi Indonesia masih tergolong rendah di kawasan Asia-Pasifik yang disebabkan oleh minimnya infrastruktur dan kurangnya wadah pengembangan teknologi digital. Untuk menjawab kedua tantangan tersebut, perancangan Digital Innovation Center di Kota Semarang diusulkan sebagai wadah pengembangan inovasi teknologi digital (meliputi aspek knowledge, technology, dan future readiness) yang sekaligus mempelopori efisiensi energi. Perancangan ini menggunakan pendekatan Sustainable Design yang mengintegrasikan prinsip Net Zero Energy Building (NZEB) untuk menyeimbangkan kebutuhan energi operasional yang tinggi dari bangunan berteknologi tinggi. Strategi desain diterapkan secara menyeluruh, mulai dari peletakan massa dan fasad yang merespons lintasan matahari, kondisi kontur, dan arah angin, pemanfaatan struktur baja dan green concrete, pemanfaatan sumber air hujan dan sumur untuk pasokan air bersih, hingga penggunaan utilitas energi terbarukan berupa sistem PV Rooftop Hybrid. Berdasarkan hasil analisis dan simulasi perancangan menggunakan perangkat EDGE Green Building Certification, bangunan ini terbukti mampu mengimplementasikan prinsip berkelanjutan dengan sangat baik. Rancangan ini berhasil mencapai tingkat efisiensi energi sebesar 84,17%, efisiensi penggunaan air sebesar 52,36%, dan efisiensi material bahan bangunan sebesar 75,80%. Hal ini mengonfirmasi bahwa Digital Innovation Center dapat meminimalkan jejak karbon dan berhasil diklasifikasikan sebagai bangunan NZEB yang adaptif terhadap iklim lokal Kota Semarang.