Pengasuhan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan tantangan
yang memerlukan kemampuan adaptasi keluarga yang tinggi. Berbagai tekanan
emosional, perubahan peran, dan tuntutan pengasuhan dapat memengaruhi
keberfungsian keluarga sehingga diperlukan resiliensi untuk menghadapi kondisi
tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran resiliensi keluarga
dalam menghadapi tantangan memiliki anak dengan ASD serta mendeskripsikan
peran sentral ibu sebagai primary caregiver dalam mempertahankan resiliensi
keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus
jamak terhadap empat ibu yang dipilih melalui purposive sampling. Data
dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi,
kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi keluarga terbentuk melalui tiga aspek
utama, yaitu family belief system, organizational patterns, dan communication
processes. Keluarga mampu membangun makna positif terhadap kondisi anak,
mempertahankan harapan yang realistis, memanfaatkan spiritualitas sebagai sumber
kekuatan, menunjukkan fleksibilitas dalam pembagian peran dan rutinitas, serta
mengembangkan komunikasi yang terbuka dan kolaboratif. Selain itu, ibu sebagai
primary caregiver berperan sentral dalam pengasuhan anak, mendukung proses
adaptasi keluarga terhadap kondisi anak, mengoordinasikan peran anggota keluarga,
serta mengakses berbagai sumber daya yang dibutuhkan. Penelitian ini menunjukkan
bahwa resiliensi keluarga dengan anak ASD merupakan proses yang dinamis dan
kontekstual yang dibentuk melalui interaksi sistem keyakinan, pola organisasi, dan
proses komunikasi keluarga, dengan ibu sebagai aktor utama dalam mempertahankan
kemampuan adaptasi keluarga.