School well-being (SWB) merupakan aspek penting yang mendukung proses
belajar efektif. SWB yang optimal membuat siswa merasa bahagia sehingga
berdampak positif terhadap pengalaman siswa di sekolah. Salah satu faktor yang
memengaruhi school well-being adalah hubungan sosial. Namun, bagi siswa
dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) yang memiliki hambatan komunikasi
dan interaksi sosial, membangun hubungan yang baik sering menjadi tantangan
sehingga dapat berdampak pada SWB mereka. Penelitian ini bertujuan
menganalisis SWB siswa dengan ASD di SMKN 8 Surakarta serta
mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhinya.
Partisipan penelitian mencakup satu siswa ASD sebagai subjek utama dan lima
narasumber pendukung, yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wali kelas,
guru pendamping khusus (GPK), teman satu kelas yang sering maupun jarang
berinteraksi, serta orang tua siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
dengan desain studi kasus. Partisipan dipilih melalui teknik purposive sampling.
Data dikumpulkan melalui wawancara individual dan observasi sebagai data
pendukung. Data dianalisis menggunakan analisis studi kasus melalui
pengorganisasian, pemberian kode, pengembangan tema, interpretasi, dan
penyajian hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SWB siswa ASD di SMKN
8 Surakarta bersifat dinamis dan dipengaruhi karakteristik khas ASD, yang
tercermin melalui pengalaman positif maupun hambatan di lingkungan sekolah.
Faktor pendukung meliputi dukungan sosial yang suportif, penyesuaian kebutuhan
belajar, kesempatan mengembangkan minat, kolaborasi keluarga, serta lingkungan
sekolah yang mendukung kenyamanan subjek. Faktor penghambat meliputi
keterbatasan penerimaan dan relasi sosial, keterbatasan penyesuaian
pembelajaran, perubahan rutinitas, dan kondisi lingkungan yang kurang sesuai
dengan kebutuhan sensorik. Temuan ini mengimplikasikan perlunya layanan
inklusif dan lingkungan yang mengakomodasi karakteristik ASD dalam
pendidikan.