Penerapan pendidikan inklusif penting bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun, dalam pelaksanaannya, pendidikan inklusif masih menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan pemahaman guru terhadap karakteristik siswa berkebutuhan khusus serta minimnya dukungan pembelajaran yang dapat menciptakan school well-being. Relasi guru-siswa yang positif dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung kenyamanan, rasa aman, dan keterlibatan siswa di lingkungan sekolah sehingga dapat terciptanya school well-being pada siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara relasi guru-siswa dengan school well-being pada siswa berkebutuhan khusus di SMK Negeri inklusi Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dan metode survei dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian merupakan siswa berkebutuhan khusus aktif di SMK Negeri Kota Surakarta. Sebanyak 38 siswa berkebutuhan khusus aktif dari SMKN 4, SMKN 8, dan SMKN 9 Surakarta yang terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan menggunakan skala S-TSRI dan skala School Well-Being yang diuji validitas dan reliabilitasnya melalui uji coba terpakai. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi nonparametrik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara relasi guru-siswa dengan school well-being pada siswa berkebutuhan khusus (r = 0,640; p < 0,001). Hubungan positif ini bermakna bahwa semakin tinggi nilai relasi guru-siswa yang dimiliki siswa berkebutuhan khusus, maka semakin tinggi pula tingkat school well-being yang dirasakan. Relasi guru-siswa memberikan kontribusi sebesar 40,96% terhadap school well-being. Dengan demikian, temuan ini menegaskan bahwa relasi guru-siswa yang positif dapat mendukung school well-being siswa berkebutuhan khusus di SMK Negeri inklusi Surakarta.