Perkembangan dunia fesyen mendorong perancang menghadirkan karya yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mengangkat budaya dan kearifan lokal. Hal ini menjadi penting karena perkembangan tren fesyen global berpotensi mengurangi eksistensi budaya tradisional. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian melalui karya kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. Sang Hyang Antaboga sebagai sosok mitologi Nusantara memiliki makna filosofis tentang kehidupan, kemakmuran, dan kekuatan bumi yang berpotensi dijadikan inspirasi visual dalam perancangan busana pesta melalui penerapan teknik batik dan bordir sebagai elemen dekoratif utama. Metode perancangan yang digunakan adalah metode yang dikemukakan oleh Sp Gustami yang meliputi tahap eksplorasi ide, studi literatur mengenai Sang Hyang Antaboga, pengembangan konsep visual, pembuatan sketsa desain, pemilihan material, serta proses perwujudan busana. Teknik batik digunakan untuk menciptakan motif yang terinspirasi dari bentuk naga dan elemen alam, sedangkan teknik bordir diterapkan untuk memperkuat detail tekstur dan kesan mewah pada busana pesta. Hasil perancangan berupa karya busana pesta yang menampilkan visual artistik terinspirasi dari Sang Hyang Antaboga melalui perpaduan siluet, motif batik, dan detail bordir. Busana yang dihasilkan memiliki karakter dramatis, elegan, dan eksklusif dengan pengolahan detail yang memperlihatkan nilai estetika budaya Nusantara dalam konteks fesyen modern. Perancangan ini menunjukkan bahwa unsur budaya dan mitologi lokal dapat dikembangkan menjadi karya Busana Pesta yang inovatif dan memiliki identitas kuat. Penerapan teknik batik dan bordir mampu memperkuat nilai artistik sekaligus menjadi media pelestarian budaya tradisional dalam dunia fesyen kontemporer.