Batik sebagai warisan budaya Indonesia terus berkembang melalui inovasi motif
abstrak yang ekspresif dan fleksibel sesuai dengan selera pasar modern. Batik
Pandono sebagai usaha batik di Laweyan masih menggunakan pewarna sintetis
dalam proses produksi, sementara pengolahan limbah di kawasan tersebut belum
berjalan optimal. Perancangan ini mengembangkan motif batik abstrak Pandono
yang terinspirasi dari bunga bugenvil dengan pewarna alami sebagai alternatif
yang ramah lingkungan dan diterapkan pada gaun wanita untuk menghasilkan
karya busana yang estetis, modern, serta mengangkat budaya lokal.
Metode perancangan yang digunakan adalah Tiga Tahap Enam Langkah menurut
S. P. Gustami, yang meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan.
Tahap eksplorasi dilakukan melalui observasi pada Batik Pandono, identifikasi
permasalahan penggunaan pewarna sintetis, serta studi bentuk visual dan filosofi
bunga bugenvil sebagai sumber ide. Tahap perancangan mencakup pembuatan
sketsa motif abstrak dan visualisasi desain dalam bentuk kain. Tahap perwujudan
meliputi proses pembuatan karya final berupa gaun wanita, serta revisi dan
evaluasi sebagai penyempurnaan karya.
Hasil perancangan berupa koleksi gaun wanita dengan motif batik Pandono yang
mengolah stilasi bunga bugenvil dalam komposisi visual ekspresif, dinamis, dan
kontemporer. Pewarna alami yang digunakan mampu menghasilkan karakter
warna yang lembut, unik, dan selaras dengan konsep ramah lingkungan. Karya ini
menunjukkan bahwa pengembangan motif abstrak flora lokal dapat diterapkan
pada busana modern tanpa menghilangkan nilai budaya batik.
Perancangan ini menghasilkan inovasi motif batik abstrak Pandono terinspirasi
bunga bugenvil dengan penerapan pewarna alami pada gaun wanita sebagai
alternatif busana yang estetis, modern, dan lebih berkelanjutan.