Perkembangan ekonomi kreatif pada era Revolusi Industri 4.0 menempatkan
kreativitas, inovasi, dan pelestarian budaya sebagai faktor penting dalam
meningkatkan daya saing kota. Surakarta memiliki potensi sebagai kota seni dan
budaya yang diperkuat melalui penetapan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif
Indonesia (PMK3I) tahun 2019 dan keanggotaan UNESCO Creative Cities Network
(UCCN) kategori Crafts and Folk Art tahun 2023. Meskipun didukung oleh
beragam subsektor ekonomi kreatif, aktivitasnya masih berlangsung secara
terpisah sehingga kolaborasi belum optimal, sementara modernisasi turut
mengancam identitas budaya dan arsitektur lokal. Kondisi tersebut melatarbelakangi
perancangan Pusat Seni dan Budaya dengan Pendekatan Neo-Vernakular di Surakarta
sebagai wadah terpadu bagi pengembangan seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Buku konsep ini
memaparkan proses perancangan yang meliputi identifikasi proyek, perumusan
permasalahan, kajian pustaka, analisis, pengembangan konsep, hingga hasil
desain. Pendekatan neo-vernakular diterapkan melalui reinterpretasi nilai,
filosofi, bentuk, dan karakter arsitektur tradisional Jawa ke dalam rancangan
yang modern, kontekstual, dan adaptif. Konsep desain dikembangkan pada aspek
pengolahan tapak, ruang, massa dan tampilan bangunan, serta struktur dan
utilitas. Hasil perancangan diharapkan mampu menjadi wadah apresiasi, edukasi,
produksi, dan kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif sekaligus mendukung
pelestarian budaya, penguatan identitas arsitektur lokal, peningkatan daya
tarik wisata, dan pertumbuhan ekonomi kreatif Kota Surakarta secara
berkelanjutan.