Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar kedua di dunia, namun rantai
pasoknya masih terfragmentasi akibat ketidakseimbangan spasial antara pusat
produksi dan fasilitas pengolahan, rantai perantara yang panjang, serta pemanfaatan
produk samping yang belum optimal. Penelitian ini mengembangkan model
deterministik multi-periode berbasis Mixed-Integer Linear Programming (MILP)
untuk Closed-Loop Supply Chain (CLSC) Network pada komoditas kelapa (Cocos
nucifera L.). Model ini mengintegrasikan aliran produk forward dan reverse pada
delapan jenis fasilitas yang melayani delapan segmen pasar. Fungsi objektif
bertujuan meminimalkan total biaya rantai pasok yang terdiri atas biaya pembelian,
operasional, pembukaan fasilitas, penyimpanan, transportasi, emisi karbon, serta
tenaga kerja (tetap dan lepas), dengan mempertimbangkan kendala produksi,
keseimbangan aliran, permintaan, lokasi, kapasitas, dan tenaga kerja. Emisi karbon
dari empat sumber aktivitas dimasukkan ke dalam model melalui kebijakan carbon
cap-and-trade. Model diselesaikan menggunakan software LINGO 22.0 dan
menghasilkan solusi optimal global sebesar Rp144.086.690.844,92 untuk horizon
perencanaan 12 periode dengan 5.731 variabel dan 8.051 kendala. Hasil analisis
sensitivitas menunjukkan bahwa fluktuasi permintaan memberikan pengaruh
terbesar terhadap biaya sistem dan alokasi tenaga kerja, sedangkan perubahan biaya
penyimpanan memberikan dampak paling kecil. Model yang diusulkan juga
berhasil mengatasi beberapa keterbatasan penelitian CLSC sebelumnya dengan
secara eksplisit memodelkan produk turunan air kelapa, sumber emisi yang lebih
komprehensif, serta komponen biaya tenaga kerja yang terdisagregasi.