Upaya Indonesia dalam mewujudkan transisi energi nasional yang berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar dan kompleks akibat tingginya ketergantungan terhadap energi fosil, sementara realisasi bauran energi baru dan terbarukan masih jauh dari target yang ditetapkan untuk mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060. Salah satu instrumen kerja sama internasional yang dimiliki Indonesia adalah Indonesia-Norway Bilateral Energy Consultation (INBEC), yaitu sebuah forum konsultasi bilateral di bidang energi antara Indonesia dan Norwegia yang berlangsung sejak tahun 1995. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal INBEC serta merumuskan strategi optimalisasinya dalam mendukung target NZE Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik kajian pustaka, data dianalisis secara deskriptif melalui pendekatan analisis SWOT serta matriks TOWS Weihrich. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa INBEC memiliki kekuatan berupa kapabilitas forum dalam mewadahi dialog dan komunikasi antar-aktor, namun masih memiliki kelemahan pada kerangka acuan yang belum secara eksplisit dan tegas mengarah pada isu transisi energi. Peluang terbesar berasal dari semakin menguatnya dukungan politik dan komitmen lingkungan di Norwegia, sedangkan ancaman muncul dari adanya ketidakselarasan dan inkonsistensi kebijakan domestik di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis matriks TOWS, INBEC kemudian berada pada kuadran WO (turn-around), dengan demikian, strategi optimalisasi yang paling tepat untuk diterapkan adalah penguatan dan perluasan kerangka acuan forum melalui perumusan dan penegasan kembali terhadap Terms of Reference (ToR) yang jelas dan terukur, agar isu lingkungan dan transisi energi dapat menjadi bagian dari agenda forum yang bersifat eksplisit, terarah, dan berkelanjutan.