Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan obat yang tinggi, namun pemetaan
spesifik untuk pengobatan batuk serta keterkaitannya dengan dasar fitokimia masih
terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman spesies, tren
penggunaan, pola kombinasi tumbuhan obat, serta mengidentifikasi kandungan
senyawa aktif dan potensi farmakologisnya berdasarkan data RISTOJA periode
2012–2017 dan basis data KNApSAcK. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif eksploratif dengan memanfaatkan data sekunder. Analisis dilakukan
melalui identifikasi spesies, pengelompokan berdasarkan frekuensi penggunaan,
distribusi geografis, serta analisis kemunculan bersama antarspesies. Validasi
fitokimia dilakukan melalui penelusuran basis data KNApSAcK dan didukung oleh
studi literatur terkait aktivitas farmakologis senyawa. Hasil penelitian menunjukkan
terdapat 191 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan untuk pengobatan batuk di
Indonesia. Dari inventarisasi, ditemukan 2 spesies dengan tingkat penggunaan
sangat tinggi yaitu Zingiber officinale dan Citrus aurantifolia, yang digunakan di
≥23 provinsi. Distribusi penggunaan menunjukkan variasi yang signifikan antar
wilayah, dengan tingkat tertinggi di Sulawesi Tengah (27,89%), Jawa Timur
(17,89%), dan Papua (16,32%), serta terendah di DKI Jakarta (1,05%). Analisis
kombinasi menunjukkan adanya pola kemunculan bersama antarspesies yang
mengindikasikan potensi efek sinergis dalam praktik etnomedisin. Analisis
fitokimia mengidentifikasi 635 senyawa aktif pada Zingiber officinale dan 117
senyawa pada Citrus aurantifolia, yang didominasi oleh senyawa fenolik,
terpenoid, flavonoid, dan minyak atsiri. Senyawa-senyawa tersebut diketahui
memiliki aktivitas farmakologis yang relevan, antara lain sebagai antitusif,
antiinflamasi, antiinfeksi, dan bronkodilator. Temuan ini menjembatani praktik
tradisional dengan kajian ilmiah modern serta memberikan dasar awal bagi
pengembangan fitofarmaka yang berakar pada budaya, sekaligus memprioritaskan
penelitian lanjutan untuk memperkuat bukti di bidang fitokimia, farmakologi, dan
klinis.