Pemanfaatan limbah agro-maritim sebagai
bahan baku material komposit merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan material
fungsional yang bernilai tambah sekaligus mendukung
keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
variasi komposisi abu sekam padi dan bubuk cangkang kerang simping (Amusium pleuronectes) terhadap nilai
hambat panas papan komposit bermatriks waterglass
(natrium silikat) serta mengevaluasi potensinya sebagai material tatakan
setrika. Papan komposit dibuat menggunakan metode hand lay-up
dengan dua variasi
komposisi, yaitu variasi
1 (50% waterglass, 30% abu
sekam padi, dan 20% bubuk cangkang kerang simping) serta variasi 2 (50% waterglass, 20% abu sekam padi, dan 30% bubuk
cangkang kerang simping). Seluruh filler diayak hingga ukuran 200 mesh
dan pembuatan spesimen menggunakan metode hand lay-up sebanyak tiga replikasi per variasi. Spesimen kemudian
dilakukan pengujian konduktivitas termal menggunakan Thermal Conductivity Apparatus Pasco
TD-8561. Nilai konduktivitas termal yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk
menghitung nilai hambat panas, kemudian dianalisis secara statistik melalui uji
normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, dan uji T dua sampel
independen menggunakan Minitab.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi 1 menghasilkan nilai hambat panas rata-rata sebesar
2,77 K/W, lebih tinggi dibandingkan variasi 2
sebesar 2,31 K/W. Hasil uji T menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,024 (p
< 0,05), yang mengindikasikan bahwa perbedaan komposisi filler memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai hambat
panas papan komposit. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan
proporsi abu sekam padi terbukti meningkatkan nilai hambat panas karena
kandungan silika yang tinggi dan struktur partikelnya yang berpori, dengan
komposisi terbaik diperoleh pada variasi 1 dengan rentang nilai hambat panas
2,65–2,87 K/W yang berpotensi dikembangkan sebagai material tatakan setrika
berbasis limbah yang berkelanjutan.