Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS Terapung) merupakan salah satu teknologi energi terbarukan yang dikembangkan di Indonesia untuk memanfaatkan potensi energi surya tanpa menggunakan lahan darat. Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah PLTS Terapung di Desa Kesongo, Kabupaten Semarang, yang dirancang untuk mendukung sistem irigasi program Smart Farming. Namun, kondisi ekologis Danau Rawa Pening yang didominasi pertumbuhan eceng gondok secara masif, sedimentasi, dan kelembapan tinggi berpotensi menimbulkan berbagai risiko operasional yang dapat meningkatkan biaya operasi dan pemeliharaan (O&M) secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko operasional pada proyek PLTS Terapung Desa Kesongo menggunakan kerangka manajemen risiko berbasis SNI ISO 31000:2018, serta menganalisis dampak finansialnya melalui metode Levelized Cost of Energy (LCOE) dan grid parity. Identifikasi risiko dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara dengan pemangku kepentingan desa dan petugas teknisi, serta studi literatur. Analisis risiko dilakukan menggunakan penilaian kemungkinan-kejadian dan konsekuensi yang dipetakan ke dalam matriks risiko operasional. Hasil penelitian mengidentifikasi 20 risiko operasional, dengan tiga risiko prioritas yaitu gangguan pertumbuhan gulma/tanaman air (R01), kerusakan insulasi kabel (R15), dan kebocoran perkabelan DC akibat degradasi korosi (R18), yang masing-masing memperoleh nilai risiko ≥15. Tindakan mitigasi yang dirumuskan meliputi pembersihan eceng gondok secara dwi-mingguan dan penggantian kabel serta konektor secara berkala. Implementasi mitigasi meningkatkan total biaya O&M tahunan menjadi Rp117.282.000,00, menghasilkan LCOE sebesar Rp4.474,63/kWh atau sekitar 210% di atas tarif listrik PLN sebesar Rp1.444,70/kWh. Grid parity hanya dapat dicapai dengan subsidi eksternal minimum sebesar 82,7% dari biaya O&M.