Masalah yang dikaji mencakup tiga hal, yaitu: (1) Bagaimanakah
keterkaitan antar unsur struktural dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto? (2)
Bagaimanakah wacana perdagangan perempuan dalam novel Trah karya Atas S.
Danusubroto? (3) Bagaimanakah solusi yang ditawarkan pengarang untuk keluar
dari jerat perdagangan perempuan dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto?
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan unsur struktural
dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto. (2) Mendeskripsikan wacana
perdagangan perempuan dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto. (3)
Mendeskripsikan solusi yang ditawarkan pengarang untuk keluar dari jerat
perdagangan perempuan dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) pendekatan struktural
yang meliputi fakta-fakta cerita, tema, dan sarana-sarana sastra; (2) teori wacana
yang mengkaji wacana perdagangan perempuan dalam novel Trah; dan (3) teori
kritik sastra feminis yang mengkaji solusi yang ditawarkan oleh pengarang kepada
korban untuk keluar dari jerat perdagangan perempuan.
Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian sastra yang bersifat
deskriptif kualitatif jenis penelitian library research. Sumber data penelitian ini
adalah novel Trah yang berisi teks sebanyak 268 halaman. Data dalam penelitian
ini adalah teks mengenai unsur struktural, wacana perdagangan perempuan dan
solusi yang ditawarkan pengarang dalam jerat perdagangan perempuan. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah analisis isi, yaitu dengan membaca
secara kritis novel Trah karya Atas S. Danusubroto.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) unsur struktural yang
terdapat dalam novel Trah karya Atas S. Danusubroto saling berkaitan satu sama
lain sehingga membentuk kesatuan yang utuh; (2) wacana perdagangan perempuan
difaktori oleh adanya pihak yang berkuasa dan melanggengkan struktur kapitalisme
dan patriarki; dan (3) pengarang gagal dalam memberikan solusi feminisme kepada
korban dan malah melanggengkan feodalisme serta patriarki, sehingga perempuan
sebagai gender subordinat hanya berpindah tangan kepada penguasa gender
maskulin yang dianggap lebih baik.