Pengendalian
persediaan material drop core merupakan aspek kritis dalam operasional
PT Telkom Akses Witel Solo sebagai penyedia jasa instalasi dan pemeliharaan
jaringan FTTH. Kondisi pengendalian yang berjalan menunjukkan ketidakefisienan
yang ditandai oleh rendahnya tingkat perputaran stok serta keterlambatan
instalasi akibat kekosongan material di gudang, yang berdampak pada pemenuhan
Service Level Agreement pelanggan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian
persediaan material drop core menggunakan metode Min-Max Stock,
mengidentifikasi faktor penyebab ketidakefisienan beserta dampaknya, serta
merumuskan strategi peningkatan efektivitas pengendalian persediaan.Metode
yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui
observasi partisipatif, wawancara terpimpin, dan dokumentasi internal. Analisis
akar masalah menggunakan Fishbone Diagram, sedangkan pengendalian persediaan
dianalisis melalui perhitungan safety stock, minimum stock, maximum stock, dan
reorder point dengan metode Min-Max Stock.Hasil
penelitian mengidentifikasi empat faktor penyebab ketidakefisienan, yaitu
manusia, sistem, material, dan lingkungan. Penerapan metode Min-Max Stock
menghasilkan safety stock 33.144 meter, minimum stock 64.582 meter, dan maximum
stock 96.020 meter. Secara finansial, metode ini menekan biaya penyimpanan dari
Rp2.566.410 menjadi Rp717.506 per periode, atau menghemat Rp1.848.904 per
periode dibandingkan kondisi sebelumnya.
Simpulan
penelitian menunjukkan bahwa metode Min-Max Stock mampu menetapkan batas
persediaan yang proporsional sehingga pengadaan lebih terencana dan efisien.
Strategi perbaikan mencakup penguatan standar pencatatan stok, penerapan metode
sebagai parameter baku, rekonsiliasi fisik berkala, dan penyesuaian batas stok
berdasarkan riwayat pemakaian. Penelitian selanjutnya disarankan mencakup
seluruh jenis material FTTH dengan rentang data lebih panjang untuk hasil yang
lebih optimal.