Fito Surya Gumelar. K4422029. Pembimbing: Dr. Musa Pelu, S.Pd., M.Pd.
PENGARUH PENGEMBANGAN KLASTER MUSEUM SANGIRAN
TERHADAP DAYA TARIK WISATA SEJARAH DAN BUDAYA. Skripsi,
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta, Juni 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) latar belakang
dilaksanakannya pengembangan klaster Museum Sangiran; (2) pengaruh
pengembangan klaster Museum Sangiran terhadap daya tarik wisata sejarah dan
budaya; dan (3) faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan klaster
Museum Sangiran.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan
teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan
studi dokumentasi. Narasumber dalam penelitian ini meliputi pengelola museum,
pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar klaster museum. Objek penelitian
berfokus pada klaster-klaster satelit Museum Manusia Purba Sangiran, yaitu
Klaster Ngebung, Klaster Bukuran, Klaster Dayu, dan Klaster Manyarejo.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama, latar belakang
pengembangan klaster Museum Sangiran didasarkan pada pertimbangan daya
dukung wisata kawasan Situs Sangiran yang memiliki luas mencapai 56 km²
dengan sebaran fosil di berbagai lokasi, kebutuhan untuk mengoptimalkan potensi
wisata sejarah dan budaya yang belum tergali secara maksimal, upaya
mendistribusikan dampak ekonomi pariwisata secara lebih merata kepada
masyarakat di berbagai desa kawasan Sangiran, serta strategi menciptakan
diferensiasi dan keunggulan kompetitif melalui spesialisasi tema di setiap klaster
yang saling melengkapi. Kedua, pengaruh pengembangan klaster terhadap daya
tarik wisata sejarah dan budaya menunjukkan hasil yang belum optimal. Dari aspek
wisata sejarah, meskipun setiap klaster memiliki nilai arkeologis dan edukatif yang
tinggi dengan spesialisasi koleksi yang unik, namun potensi ini belum berhasil
diterjemahkan menjadi daya tarik yang efektif. Dari aspek wisata budaya, potensi
integrasi antara warisan budaya prasejarah dengan budaya hidup masyarakat lokal
belum dikelola secara sistematis. Sekitar 90% pengunjung hanya mengunjungi
Klaster Krikilan sebagai museum induk dan tidak melanjutkan kunjungan ke
klaster-klaster satelit. Ketiga, faktor pendukung pengembangan klaster Museum
Sangiran meliputi dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, status
UNESCO World Heritage, nilai ilmiah dan edukatif yang tinggi, keunikan dan
autentisitas lokasi, serta keterlibatan masyarakat lokal. Adapun faktor penghambat
meliputi keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas, minimnya sumber daya
manusia yang kompeten, kurangnya promosi dan komunikasi pemasaran,
keterbatasan fasilitas pendukung, serta keterbatasan anggaran operasional dan
pemeliharaan yang menciptakan siklus negatif dalam pengelolaan klaster.