PENGARUH SISTEM
TANAM TUMPANGSARI TERHADAP KEANEKARAGA-MAN DAN KELIMPAHAN SERANGGA PENGUNJUNG
BUNGA JAGUNG DI LAHAN TEGALAN. Skripsi: Imelda Rusadi (H0721072). Pembimbing: Retna
Bandriyati Arniputri, Retno Wijayanti, dan Supriyadi. Program Studi
Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Jagung (Zea mays L.)
merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia yang memiliki peran
dalam mendukung ketahanan pangan, penyediaan pakan ternak, dan bahan baku
berbagai industri. Sayangnya, pengelolaan budidaya jagung saat ini masih
didominasi oleh sistem pertanian intensif dan monokultur yang cenderung
menekankan peningkatan produksi. Penerapan sistem tersebut sering kali kurang
memperhatikan keseimbangan agroekosistem, termasuk keberadaan dan
keanekaragaman serangga pengunjung bunga yang memiliki peran penting dalam
menjaga fungsi ekologi lahan pertanian. Untuk tetap mempertahankan
produktivitas jagung sekaligus mendukung keberlanjutan agroekosistem,
diperlukan strategi budidaya yang mampu meningkatkan keragaman vegetasi dan
menyediakan habitat yang lebih beragam bagi serangga. Salah satu pendekatan
yang dapat diterapkan adalah sistem tanam tumpangsari, yang mengombinasikan dua
atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan sehingga berpotensi meningkatkan
ketersediaan sumber pakan dan tempat berlindung bagi berbagai jenis serangga.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keanekaragaman
serangga pengunjung bunga jagung pada sistem tanam tumpangsari dan monokultur.Kegiatan penelitian dilakukan di lahan
tegalan Dusun Ceper, Gemawang, Ngadirojo, Kegiatan penelitian dilakukan ketika
sudah memasuki musim penghujan yaitu pada bulan November 2024 hingga Januari
2025. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan metode eksperimental
(percobaan). Metode survei dilakukan dengan random
sampling untuk menentukan unit sampel pengamatan. Pengambilan serangga
dengan bantuan sweep net dua ayunan ganda. Tanaman
yang dipilih sebagai sampel berada di fase generatif 50-57 hst dengan malai
telah terbuka 50%. Penentuan jumlah sampel sebanyak 15% dari jumlah
populasi. Sampel serangga dikumpulkan dan
diidentifikasi, dilanjutkan
dengan menghitung hasil pengamatan menggunakan SPSS T-test, indeks
keanekaragaman (H’), dan indeks kemerataan (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
serangga pengunjung bunga jagung pada berasal dari Ordo Coleoptera, Diptera,
Hemiptera, Hymenoptera, dan Lepidoptera yang terdiri atas 7 famili dan 10
genus, yaitu Coccinella, Lucilia, Musca, Pentatomidae, Apis, Xylocopa,
Anoplolepis, Camponotus, Hypolimnas, dan Neptis. Pada sistem tanam tumpangsari
distribusi individu genus relatif lebih merata dibanding monokultur yang masih
didominasi oleh genus Coccinela (44%). Berdasarkan hasil uji-T menunjukkan bahwa perlakuan tumpangsari belum memberikan pengaruh
nyata dibandingkan monokultur terhadap keanekaragaman serangga pengunjung bunga
jagung. Namun nilai indeks keanekaragaman (H’) dan indeks kemerataan (E) menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan komunitas serangga pengunjung bunga pada sistem
tanam tumpangsari dibanding sistem tanam monokultur. Hal ini ditunjukkan oleh
peningkatan nilai H' dari 1,66 (T0) menjadi 2,06–2,07 (T2–T3) serta peningkatan
nilai E dari 0,36 (T0) menjadi 0,45–0,47 (T3-T2).