Sektor
transportasi menjadi salah satu penyumbang utama emisi karbon global, dengan
transportasi darat menyumbang sekitar 74% dari total emisi sektor transportasi.
Indonesia, dengan jumlah sepeda motor mencapai 83% dari total kendaraan
bermotor, menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi sekaligus beban
subsidi BBM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah menerapkan
program konversi sepeda motor listrik dengan berbagai kebijakan pendukung.
Namun hingga Februari 2026, realisasi program hanya mencapai sekitar 2.250
unit, jauh dari target 200.000 unit. Penelitian ini bertujuan menganalisis
pengaruh kebijakan pemerintah terhadap adoption intention sepeda motor
listrik konversi, dengan attitude sebagai variabel mediasi. Penelitian
menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) dengan metode analisis PLS-SEM.
Data dikumpulkan melalui kuesioner daring pada pengguna sepeda motor
konvensional yang berdomisili di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah,
dan DKI Jakarta, dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive
sampling, dan diperoleh 152 responden yang memenuhi kriteria untuk
dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial incentive policy
dan environmental regulation berpengaruh positif dan signifikan terhadap
adoption intention baik secara langsung maupun melalui attitude,
sedangkan kebijakan uji laik jalan berpengaruh positif dan signifikan secara
langsung. Sementara itu, information policy dan convenience policy
berpengaruh positif dan signifikan secara tidak langsung melalui attitude.
Variabel attitude terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap adoption
intention. Pemerintah disarankan untuk mengoptimalkan insentif finansial,
memperluas layanan uji laik jalan onsite, memperluas penerapan kebijakan
Low Emission Zone (LEZ), serta memperkuat sosialisasi informasi dan
pemerataan infrastruktur pendukung kendaraan listrik guna mendorong percepatan
adopsi sepeda motor listrik konversi.