Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang memicu tingginya angka kematian balita secara global. Meskipun secara nasional prevalensi balita stunting di Indonesia mulai menurun, target percepatan pemerintah belum sepenuhnya tercapai akibat masih adanya wilayah dengan kategori “Tinggi”, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang belum mencapai target nasional maupun provinsi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis faktor ekonomi dengan pengeluaran rokok (X1), faktor sosial dengan rata-rata lama sekolah perempuan (X2) dan usia kawin (X3), serta faktor kesehatan lingkungan dengan imunisasi dasar (X4) dan hunian layak (X5) terhadap balita stunting (Y) di Provinsi NTT, serta memberikan rekomendasi kebijakan berdasarkan variabel yang berpengaruh guna menurunkan prevalensi balita stunting di Provinsi NTT 2021-2024. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif asosiatif dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kesehatan berupa 22 kabupaten/kota di Provinsi NTT pada Tahun 2021-2024. Data tersebut dianalisis dengan regresi data panel untuk menemukan model terbaik. Temuan penelitian menunjukkan model terbaik yaitu Fixed Effect Model dengan variabel pengeluaran rokok, rata-rata lama sekolah perempuan, dan imunisasi dasar tidak berpengaruh terhadap balita stunting di Provinsi NTT Tahun 2021-2024. Sedangkan, variabel usia kawin pertama berpengaruh negatif dan signifikan, serta hunian layak berpengaruh negatif dan signifikan terhadap balita stunting di Provinsi NTT Tahun 2021-2024. Sehingga, berdasarkan variabel yang berpengaruh diperoleh rekomendasi kebijakan berupa pendewasaan usia perkawinan dan peningkatan kualitas hunian. Pemerintah Provinsi NTT disarankan merealisasikan kebijakan yang berfokus pada akar masalah sosial dan kesehatan lingkungan penyebab stunting.