Tingginya laju alih fungsi lahan pertanian telah mendorong budidaya tanaman ke lahan marginal yang ternaungi, dan agroforestri yang memadukan tegakan pohon dengan tanaman semusim merupakan salah satu strategi untuk memanfaatkan kembali ruang produktif tanpa deforestasi lebih lanjut. Kedelai (Glycine max L.), tanaman leguminosa C3 yang toleran naungan dan merupakan sumber protein nabati penting, menjadi komponen tanaman semusim yang menjanjikan untuk sistem seperti ini, sementara pupuk kandang menawarkan alternatif organik terhadap pupuk anorganik yang dapat menyediakan hara sekaligus memperbaiki kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai varietas Dena1 yang ditanam di bawah tegakan mahoni (Swietenia macrophylla). Penelitian dilaksanakan di KHDTK Gunung Bromo, Universitas Sebelas Maret, pada bulan April hingga Agustus 2022, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) non-faktorial dengan empat perlakuan pupuk — pupuk anorganik (urea, SP-36, KCl), pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, dan pupuk kandang sapi, masing-masing pada dosis anjuran — dan lima ulangan. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku (nodus), panjang ruas (internodus), umur berbunga, panjang akar, luas daun, indeks luas daun, luas daun spesifik, bobot segar dan bobot kering tanaman, jumlah polong, bobot segar polong, dan bobot 100 biji, yang dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) apabila perlakuan berpengaruh nyata. Jenis pupuk kandang tidak berpengaruh nyata terhadap sebagian besar variabel vegetatif karena rendahnya intensitas cahaya di bawah kanopi mahoni (sekitar 22.500 lux, jauh di bawah ambang batas sekitar 50.000 lux yang dilaporkan sebagai kondisi optimal bagi pertumbuhan kedelai) menyebabkan respons etiolasi yang seragam pada semua perlakuan. Jenis pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap bobot segar dan bobot kering tanaman. Pupuk kandang ayam menghasilkan bobot segar tertinggi pada 3 minggu setelah tanam (MST), yaitu 61,8% lebih tinggi dibandingkan pupuk anorganik, sementara pupuk kandang ayam dan sapi menghasilkan bobot segar yang relatif setara dan tinggi pada 7 MST (masing-masing 41,9% dan 45,6% lebih tinggi dibandingkan pupuk anorganik). Pupuk kandang sapi memberikan bobot kering tertinggi pada 7 MST, yaitu 73,0% lebih tinggi dibandingkan pupuk anorganik, sejalan dengan sifat pelepasan haranya yang lambat (slow-release). Komponen hasil (jumlah polong, bobot segar polong, dan bobot 100 biji) tidak berbeda nyata antarjenis pupuk, yang menunjukkan bahwa naungan di bawah tegakan mahoni, bukan sumber pupuk, merupakan faktor pembatas utama terhadap hasil kedelai dalam sistem agroforestri ini.