Indonesia merupakan produsen rotan
terbesar di dunia dengan potensi sumber daya hayati yang melimpah, terutama di
wilayah-wilayah seperti Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Desa ini dikenal
sebagai sentra kerajinan rotan yang memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi. Namun,
perkembangan industri rotan skala besar menyebabkan berkurangnya jumlah perajin
rumahan serta menurunnya identitas desain rotan lokal. Kondisi tersebut
mendorong perlunya sebuah fasilitas yang mampu mendukung pelestarian budaya,
pengembangan desain, serta pemberdayaan perajin lokal, melalui pendekatan adaptive
reuse dengan memanfaatkan bangunan eksisting agar mampu mengakomodasi
kebutuhan fungsional saat ini tanpa menghilangkan nilai historisnya. Perancangan
dilakukan melalui metode studi literatur, observasi lapangan, wawancara, studi
komparasi, serta analisis kebutuhan pengguna, aktivitas, ruang, dan tapak.
Pendekatan adaptive reuse diterapkan pada rumah klaster rotan dan gedung
olahraga eksisting melalui strategi pelestarian elemen bangunan, penambahan
fungsi baru, serta penyisipan (insertion) bangunan penghubung sebagai
integrasi kedua massa bangunan. Hasil perancangan berupa fasilitas Pusat
Pengembangan Kerajinan Rotan yang terdiri atas area pengembangan, edukasi,
komersial, serta fasilitas pendukung lainnya. Konsep desain mengangkat karakter
fleksibilitas material rotan sebagai inspirasi bentuk, pola ruang, dan elemen
interior, dengan penerapan prinsip adaptive reuse yang mempertahankan
karakter bangunan lama sekaligus menghadirkan ruang baru yang fungsional,
edukatif, dan kolaboratif. Perancangan ini diharapkan mampu menjadi wadah
pelestarian budaya rotan, meningkatkan inovasi desain dan kapasitas perajin
lokal, serta mendukung pengembangan Desa Trangsan sebagai destinasi wisata
berbasis kerajinan rotan.