Komunikasi
keluarga merupakan faktor fundamental dalam pembentukan konsep diri individu,
terutama pada fase remaja akhir hingga dewasa awal. Mahasiswa rantau
Universitas Sebelas Maret (UNS) berada dalam kondisi transisi yang menuntut
kemandirian tinggi, namun tetap bergantung pada komunikasi keluarga sebagai
fondasi psikologis. Melemahnya intensitas komunikasi keluarga akibat jarak
geografis, kesibukan, maupun pola asuh yang kurang optimal berpotensi
menghambat pembentukan konsep diri yang positif pada mahasiswa. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola komunikasi keluarga, intensitas
komunikasi keluarga, dan kualitas komunikasi keluarga terhadap konsep diri
mahasiswa rantau UNS, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini
mengintegrasikan Family Communication Pattern Theory dari Koerner dan
Fitzpatrick, Self Concept Theory dari Carl Rogers, serta konsep
Komunikasi Interpersonal dari DeVito sebagai landasan konseptual untuk memahami
proses pembentukan konsep diri melalui komunikasi keluarga. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif.
Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif UNS angkatan 2022–2025 yang
berstatus rantau, dengan sampel sebanyak 100 responden yang dipilih melalui
teknik quota sampling proporsional berdasarkan fakultas. Data
dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan analisis
regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil analisis
regresi menghasilkan persamaan Y = 36,620 − 0,049 (X1) + 0,090 (X2) + 0,558 (X3).
Secara parsial (uji t), pola komunikasi keluarga (Sig. = 0,808) dan intensitas
komunikasi keluarga (Sig. = 0,326) tidak berpengaruh signifikan terhadap konsep
diri mahasiswa, sedangkan kualitas komunikasi keluarga berpengaruh positif dan
signifikan (koefisien = 0,558; Beta = 0,411; Sig. = 0,000). Secara simultan
(uji F), ketiga variabel terbukti berpengaruh signifikan terhadap konsep diri
mahasiswa (F = 8,803; Sig. = 0,000), dengan kontribusi sebesar 21,6% (R Square
= 0,216), sedangkan 78,4% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian.
Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas komunikasi keluarga merupakan faktor yang
paling dominan dalam pembentukan konsep diri mahasiswa rantau, dibandingkan
pola dan intensitas komunikasi semata.