Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana interseksionalitas
direpresentasikan dalam keluarga Batak pada film Ngeri-Ngeri Sedap dengan
menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis yang dikembangkan oleh Norman
Fairclough. Pemilihan film didasarkan pada penampilan dinamika keluarga Batak yang
menunjukkan adanya persinggungan berbagai identitas sosial, sehingga menciptakan
relasi kuasa dan pengalaman yang berbeda bagi setiap tokoh. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis dialog, bahasa visual, dan
konteks sosial budaya dalam film melalui tiga dimensi Analisis Wacana Kritis Norman
Fairclough, yaitu dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial budaya. Penelitian
menunjukkan bahwa interseksionalitas dalam film muncul dari pertemuan antara
identitas gender, generasi, maupun posisi kekerabatan. Irisan identitas sosial mampu
menentukan peran dominan atau subordinat setiap tokoh, sehingga membentuk
pengalaman yang berbeda, seperti privilese maupun diskriminasi. Penelitian juga
menemukan bahwa film Ngeri-Ngeri Sedap memiliki kecenderungan dalam
mereproduksi ideologi relasi kekuasaan dalam keluarga Batak, dengan mendukung
posisi ayah sebagai pemimpin keluarga, anak laki-laki sebagai pewaris nama keluarga,
serta pembagian tugas yang didasarkan pada nilai adat. Meskipun ada beberapa tokoh
yang melakukan perlawanan, hal itu tidak mengubah struktur utama relasi kuasa yang
dibentuk melalui pertemuan berbagai identitas. Sehingga, film Ngeri-Ngeri Sedap
menunjukkan relasi kuasa dalam keluarga Batak direpresentasikan dan direproduksi
melalui interaksi berbagai identitas sosial dalam konteks budaya tersebut.