Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah ampas teh (Camellia
Sinensis) sebagai bahan baku pembuatan minyak atsiri melalui metode maserasi dan
distilasi, selanjutnya diaplikasikan dalam produk reed diffuser. Tiga variasi formulasi
bahan diuji, yaitu formula 1 (100% limbah teh), formula 2 (100% teh baru), dan
formula 3 (50% limbah teh dan 50% teh baru). Proses ekstraksi dilakukan dengan
merendam 30 gram teh kering dalam 300 mL etanol 70% selama tiga hari, disertai
pengadukan rutin selama 3 hari. Setelah ekstraksi, dilakukan proses pemurnian
menggunakan metode distilasi untuk memperoleh minyak atsiri murni.Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa Formula 3 menghasilkan rendemen
minyak atsiri tertinggi sebesar 3,93%, diikuti oleh Formula 2 sebesar 3,83%, dan
Formula 1 sebesar 3,47%. Warna minyak atsiri yang diperoleh cenderung coklat pekat
pada seluruh formula, yang diduga disebabkan oleh proses oksidasi enzim polifenol
pada daun teh. Densitas minyak atsiri yang dihasilkan berada pada rentang 0,951–0,961
gram/mL, yang masih sesuai dengan karakteristik umum minyak atsiri. Karakterisasi senyawa dilakukan melalui pengujian menggunakan Gas
Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), yang menunjukkan bahwa sampel
mengandung satu senyawa aromatik teridentifikasi yaitu 3,3-dimethyl-2-phenyl-2-(1
oxo-1,2,3,4-tetrahydronaphthalen-2-yl)azirane dengan rumus molekul C20H21NO.
Selanjutnya dilakukan analisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy
(FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi dalam senyawa. Hasil spektrum FTIR
menujukkan keberadaan gugus -OH, C-H, C=C, dan C-O, yang mengindikasikan
adanya senyawa alkohol, alkil, ikatan rangkap dua pada alkena, serta gugus alkohol
dalam komponen minyak atsiri Selanjutnya dilakukan pula uji kesukaan responden terhadap aroma dari reed
diffuser berbasis minyak atsiri teh. Penilaian dilakukan dengan menggunakan skala 1
hingga 5, di mana nilai 1 berarti sangat tidak suka, dan nilai 5 berarti sangat suka. Hasil
uji menunjukkan bahwa formula reed diffuser AF2 (berbasis formula 3) memperoleh
nilai tertinggi dengan rata-rata 4,23, mengindikasikan preferensi positif dari responden. Minyak atsiri teh yang diperoleh diformulasikan menjadi produk reed diffuser
dengan menggunakan pelarut propylene glycol. Produk ini berfungsi sebagai
pengharum ruangan yang bersifat alami dan memiliki efek relaksasi. Berdasarkan hasil
yang diperoleh, limbah teh memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku
produk aromaterapi yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan, sehingga dapat
menjadi salah satu alternatif dalam pemanfaatan limbah organik.