Penelitian ini berfokus pada
analisis perbedaan kebijakan embargo Amerika Serikat terhadap Kuba pada masa pemerintahan
Barack Obama dan Donald Trump Periode Pertama. Perbandingan ini menyoroti
bagaimana kedua pemimpin menerapkan strategi kebijakan luar negeri yang berbeda
dalam menyikapi Kuba, di mana Obama berupaya menormalisasi hubungan melalui
diplomasi, sedangkan Trump memperketat kembali embargo sebagai bentuk tekanan
ekonomi dan politik. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengkaji faktor-faktor yang
memengaruhi perubahan kebijakan. Dalam menganalisis dinamika kebijakan embargo,
penelitian ini menerapkan teori kebijakan luar negeri oleh Morin dan Paquin
serta teori Comparative Foreign Policy oleh Ryan K. Beasley dan Jeffrey
S. Lantis. Teori kebijakan luar negeri Morin dan Paquin digunakan untuk
memahami instrumen kebijakan embargo, seperti sosialisasi, koersif, atau
intervensi. Sementara itu, teori Comparative Foreign Policy oleh Beasley
dan Lantis membantu membandingkan bagaimana faktor internal, eksternal, dan
kepemimpinan individu memengaruhi perumusan kebijakan embargo di kedua
pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perubahan kebijakan embargo tidak hanya dipengaruhi oleh pergantian
kepemimpinan di AS, tetapi juga oleh respons pemerintah Kuba serta kepentingan
strategis AS di kawasan Amerika Latin. Obama menerapkan kebijakan berbasis
diplomasi dan kerja sama ekonomi dengan harapan mendorong perubahan dalam
sistem ekonomi dan politik Kuba, sedangkan Trump mengadopsi pendekatan yang
lebih koersif dengan memperketat sanksi guna melemahkan pemerintahan Kuba.
Dengan memahami dinamika kebijakan embargo AS terhadap Kuba melalui perspektif
teori kebijakan luar negeri dan perbandingan kebijakan luar negeri, penelitian
ini memberikan wawasan lebih mendalam mengenai interaksi antara faktor domestik
dan internasional dalam perumusan kebijakan luar negeri AS.