Latar Belakang: Tindakan tidak aman merupakan salah satu kontributor utama
terjadinya kecelakaan kerja, khususnya di lingkungan manufaktur yang berisiko
tinggi. Berdasarkan konteks tersebut, intervensi perilaku yang bersifat proaktif
menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pelatihan
Behavior Based Safety (BBS) yang diterapkan melalui metode DO IT selama
kurang lebih dua minggu, serta mengevaluasi efektivitasnya dalam menurunkan
jumlah tindakan tidak aman pada pekerja di departemen flooring.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan
non equivalent control group, melibatkan 60 pekerja yang dibagi secara merata ke
dalam kelompok intervensi (n = 30) dan kelompok kontrol (n = 30). Kedua
kelompok menjalani penilaian pre-test dan post-test menggunakan kuesioner
tindakan tidak aman yang telah divalidasi. Kelompok intervensi menerima
perlakuan berupa program Behavior Based Safety (BBS) yang mencakup pelatihan
keselamatan, observasi, dan pemberian umpan balik, sementara kelompok kontrol
tidak menerima intervensi apa pun selama periode penelitian. Data dianalisis
menggunakan uji non-parametrik, yaitu uji Wilcoxon signed-rank dan uji Mann
Whitney.
Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam
perilaku keselamatan kerja. Nilai median tindakan tidak aman meningkat dari 35
pada pre-test menjadi 48 pada post-test, dan proporsi pekerja dalam kategori
tindakan tidak aman tinggi menurun dari 53% menjadi 17%. Sebaliknya, kelompok
kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan
Simpulan: Penerapan Behavior Based Safety (BBS) melalui pelatihan yang
terstruktur dan interaktif terbukti secara signifikan mengurangi tindakan tidak aman
di lingkungan kerja berisiko tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi
pendekatan BBS ke dalam sistem manajemen keselamatan kerja guna membangun
budaya keselamatan yang berkelanjutan dan menurunkan angka kejadian
kecelakaan kerja