Kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks, tidak hanya
berkaitan dengan masalah ekonomi tetapi juga melibatkan faktor sosial,
pendidikan, dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
Upah Minimum Kabupaten/Kota dan Indeks Pembangunan Manusia terhadap
tingkat kemiskinan di Provinsi DIY. Teknik pengumpulan data berupa studi
literatur yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Penelitian ini menggunakan
teknik analisis berupa regresi data panel dengan model yang terpilih yaitu model
Fixed Effect Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upah Minimum
Kabupaten/Kota berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan
dengan koefisien sebesar 3,987 sedangkan Indeks Pembangunan Manusia
berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien sebesar 1,672 terhadap
tingkat kemiskinan. Upah Minimum Kabupaten/Kota dan Indeks Pembangunan
Manusia secara simultan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi
DIY. Hasil koefisien determinasi sebesar 98%, sehingga Upah Minimum
Kabupaten/Kota dan IPM dapat menjelaskan tingkat kemiskinan sebesar 98%,
sedangkan 2% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model yang terdapat
dalam penelitian ini. Kabupaten Gunungkidul memiliki efek individu terendah
yang artinya memberikan efek tertinggi dalam menurunkan tingkat kemiskinan
dan Kota Yogyakarta memiliki efek tertinggi terhadap tingkat kemiskinan yang
artinya memberikan efek tertinggi dalam meningkatkan tingkat kemiskinan. Efek
waktu tertinggi pada tahun 2015 dan efek waktu terendah tahun 2024.
Berdasarkan efek 2 arah, Kota Yogyakarta tahun 2015 memiliki efek tertinggi dan
Kabupaten Gunungkidul tahun 2024 memiliki efek terendah terhadap tingkat
kemiskinan di DIY.