Kabel bekas masuk
ke dalam salah satu kategori limbah elektronik. Menurut data yang dimiliki
olah The Global E-waste Monitor 2024, limbah yang dihasilkan oleh
Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 626 ton sejak tahun 2016. Di UD Totok, terdapat penumpukan kabel bekas berukuran
kecil yang dapat menyebabkan permasalahan pada pengelolaan penyimpanan pada
lokasi usaha, dan dapat menyebabkan penurunan kualitas pada kabel apabila
tidak segera dikelola dengan benar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kabel bekas dapat digunakan sebagai material alternatif
pembuatan tas wanita dengan teknik makrame. Eksplorasi teknik makrame dengan
memanfaatkan kabel bekas dapat membuka sebuah potensi baru dalam pemanfaatan
ulang.
Perancangan ini beracuan pada Proses Kreatif oleh
Graham Wallas. Perancangan diawali dengan proses pengumpulan data berkaitan
dengan kabel bekas dan teknik makrame (Preparation), tahap berpikir
dan eksplorasi ide gagasan (incubation),
kemudian muncul gagasan untuk mengolah kabel bekas dengan menerapkan
teknik makrame sebagai tas wanita (ilumination), gagasan melewati
proses uji coba, dan evaluasi akhir (verification).
Perancangan
ini berfokus pada pengolahan limbah kabel bekas menjadi produk tas wanita
yang diaplikasikan dengan menggunakan teknik makrame. Hasilnya menjadi sebuah
produk fesyen yang tidak hanya bernilai fungsional tetapi juga bernilai
artistik, dan menjadi bentuk upaya pemanfaatan ulang.
Melalui
proses perancangan ini dapat dibuktikan jika kabel bekas dapat digunakan
sebagai material alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk eksplorasi teknik
makrame. Teknik makrame juga tidak hanya berfungsi sebagai metode konstruksi,
tetapi juga mampu menonjolkan karakteristik dari kabel bekas sehingga produk
yang dihasilkan tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga memiliki nilai
estetika.