Stasiun
Kutoarjo merupakan simpul transportasi strategis di Kabupaten Purworejo yang
berpotensi dikembangkan sebagai kawasan berorientasi transit (Transit-Oriented
Development/TOD). Namun, kualitas aksesibilitas pejalan kaki menuju
pusat-pusat aktivitas di sekitarnya masih menghadapi berbagai kendala, sehingga
diperlukan evaluasi tingkat walkability untuk menilai kesiapan kawasan
menuju pengembangan TOD. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat walkability
di kawasan sekitar Stasiun Kutoarjo serta menganalisis kesiapan kawasan
tersebut sebagai kawasan berorientasi transit berdasarkan hasil penilaian walkability.
Metode
penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan analisis
kuantitatif dan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan,
kuesioner, interpretasi citra satelit, serta data instansi, kemudian dianalisis
menggunakan teknik skoring berdasarkan sembilan variabel walkability yang
merupakan hasil sintesis dari berbagai referensi utama, yaitu Gota et al.
(2009), TOD Standard 3.0 ITDP (2017), dan Pedoman Penentuan Indeks Kelayakan
Berjalan di Kawasan Perkotaan (Kementerian PUPR, 2023). Selanjutnya, akses
menuju berbagai pusat aktivitas dianalisis untuk memetakan variasi kualitas
jalur pejalan kaki.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tingkat walkability kawasan Stasiun
Kutoarjo berada pada kategori “cukup baik” dengan skor rata-rata 64,56. Variabel
dengan skor tinggi mencakup ketersediaan infrastruktur pejalan kaki dan
keamanan, terutama pada segmen-segmen di sekitar stasiun dan terminal. Namun,
skor rendah ditemukan pada variabel fasilitas pendukung, aksesibilitas bagi
penyandang disabilitas, dan ketersediaan penyeberangan aman. Selain itu,
kualitas walkability menuju pusat aktivitas masih belum merata karena
minimnya trotoar, pencahayaan, dan fasilitas pendukung di beberapa segmen
kawasan.
Kesimpulan
penelitian menunjukkan bahwa kawasan Stasiun Kutoarjo siap secara spasial
tetapi belum siap secara fungsional untuk dikembangkan sebagai TOD. Struktur
jaringan jalan dan kedekatan spasial dengan pusat aktivitas telah mendukung
konsep TOD, tetapi kualitas desain jalur pejalan kaki masih memerlukan
peningkatan agar kawasan benar-benar layak jalan, aman, dan inklusif.