Sektor
industri merupakan salah satu penyumbang perekonomian Indonesia. Agroindustri dapat diartikan sebagai aktivitas yang
dapat menghasilkan dengan memanfaatkan sektor hasil pertanian sebagai bahan
baku, merancang dan menyediakan alat serta jasa yang dibutuhkan manusia. Tempe
adalah salah satu makanan yang terbuat dari kedelai yang sudah dikenal banyak
masyarakat Indonesia. Kota
Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah yang
memiliki banyak industri di bidang produksi hasil pertanian seperti industri
pengolahan tempe. Adanya banyak permintaan dan kandungan tempe yang
beragam untuk memenuhi gizi manusia, membuat
industri tempe harus selalu siap untuk memenuhi kebutuhan sehingga perlu
dikembangkan agar produk tempe dapat terus memenuhi kebutuhan manusia dan
gizinya. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan usaha industri tempe
untuk meningkatkan kontribusi industri berskala kecil terhadap perekonomian lokal dan nasional. Metode
dasar penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian
ditentukan secara sengaja di Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Metode
penentuan key informan secara purposive dengan key informan sebanyak
20 key informan dengan rincian 17 pengusaha tempe Kecamatan Laweyan,
Kota Surakarta dan dinas terkait sebanyak 3 orang. Perolehan data
dilakukan dengan wawancara, kuesioner, observasi, dan pencatatan. Analisis data
dengan mengidentifikasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Merumuskan
alternatif strategi dengan Matriks SWOT dan penentuan prioritas strategi
menggunakan ANP (Analytical Network Process).
Hasil
penelitian menunjukkan kekuatan utama yaitu kualitas produksi tempe dan
kelemahan utamanya yaitu pengelolaan manajemen yang kurang baik. Adapun peluang
utamanya adalah permintaan tempe yang tinggi dan ancaman utama yaitu harga
bahan baku dan pengemas fluktuatif. Hasil tersebut kemudian dianalisis dengan
matriks IE dan matriks SWOT dan diperoleh 4 alternatif strategi yang sesuai
dengan posisi industri tempe Kecamatan Laweyan Kota Surakarta yaitu sel 5 menjaga dan mempertahankan.
Berdasarkan 4 alternatif strategi tersebut kemudian dianalisis menggunakan ANP
dan menghasilkan stratetegi prioritas yaitu memperbaiki kualitas SDM dengan
memberikan pelatihan berupa manajemen produksi, keuangan dan adopsi teknologi
untuk meningkatkan keterampilan dan pengembangan produk.