Nitrogen (N) merupakan salah satu unsur hara
makro esensial bagi tanaman padi. Meskipun atmosfer mengandung 78% gas N2,
gas ini tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Bakteri penambat
nitrogen non-simbiotik merupakan mikroba yang mampu menambat dinitrogen (N2)
menjadi ammonia (NH3). Bakteri ini dapat diisolasi dari rizosfer
padi dan pencernaan cacing tanah. Tingkat umur pengelolaan sawah organik mampu memengaruhi
karakteristik sifat tanah dan keragaman bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji pengaruh umur
pengelolaan sawah organik terhadap sifat tanah, pengaruh tingkat umur
pengelolaan sawah organik dan sumber isolat (cacing tanah dan rizosfer padi)
terhadap kepadatan koloni bakteri, serta pengaruh sumber isolat terhadap kemampuan
penambatan nitrogen serta keragaman karakteristik biokimia isolat sehingga
dapat menjadi acuan pengelolaan sawah organik yang efisien dan berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2024 sampai Desember 2025 menggunakan
metode penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel
diambil dari lahan sawah organik milik kelompok tani di Dusun Ngampel, Desa
Gentungan, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar.Tahapan penelitian terdiri dari
dua tahap. Tahap I yaitu pengambilan sampel, isolasi bakteri, identifikasi
morfologi koloni bakteri, perhitungan frekuensi relatif, dan analisis sifat
tanah (pH tanah, C-organik, N-total, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa,
dan tekstur tanah). Tahap II yaitu analisis laju pertumbuhan bakteri pada media
Jensen, kemampuan penambatan nitrogen dengan metode Nessler-spektrofotometri,
dan uji biokimia isolat bakteri (uji kebutuhan oksigen, uji katalase, uji gram,
uji sitrat, uji urease, uji biofilm, uji patogenitas, dan uji kompatibilitas).
Analisis data dilakukan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA),
Duncan’s Multiple Range Test (DMRT), dan korelasi
Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat
umur pengelolaan sawah organik meningkatkan pH tanah, C-organik, dan kapasitas
tukar kation. Meskipun demikian, kualitas tanah belum sepenuhnya optimal karena
nilai C-organik dan kapasitas tukar kation dalam kategori sedang, serta
kejenuhan basa dalam kategori rendah. Sawah organik 15 tahun merupakan sawah
organik terbaik dengan nilai pH tertinggi sebesar 6,90, nilai C-organik tertinggi
sebesar 2,64%, N-total terendah sebesar 0,38%, nilai kapasitas tukar kation
(KTK) tertinggi sebesar 23,00 cmol+/kg, kejenuhan basa (KB) tertinggi
sebesar 24,78%, dan tekstur clay. Kepadatan koloni bakteri dari cacing
tanah (I1) memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan rizosfer padi (I2).
Kepadatan koloni bakteri dari cacing tanah sebesar 18,00 Log10 CFU/g, sedangkan dari rizosfer padi sebesar 16,79 Log10 CFU/g. Sumber isolat dari rizosfer padi (I2) memiliki nilai laju pertumbuhan
dan kemampuan penambatan N yang lebih tinggi dibandingkan cacing tanah (I1). Nilai laju pertumbuhan bakteri dari rizosfer padi sebesar
0,065 mm/hari dan nilai kemampuan penambatan N sebesar 7,140 ppm, sedangkan
nilai laju pertumbuhan bakteri dari cacing tanah sebesar 0,057 mm/hari dan
nilai kemampuan penambatan N sebesar 6,767 ppm. Keragaman karakteristik biokimiawi pada 32 isolat dari
cacing tanah dan rizosfer padi yang diuji. Uji kebutuhan oksigen menunjukkan 18
isolat aerob, 7 isolat anaerob, dan 7 isolat anaerob fakultatif. Pada uji
katalase mayoritas reaksi positif (28 isolat). Hasil uji sitrat menunjukkan
dominasi reaksi negatif (23 isolat), sedangkan uji urease didominasi reaksi
positif (26 isolat). Seluruh isolat (32 isolat) bersifat gram negatif dan
memiliki kemampuan membentuk biofilm serta bersifat kompatibel. Selain itu,
terdapat 1 isolat yang bersifat pathogen dari sumber cacing tanah yaitu isolat
j. Isolat dengan potensi unggul yang dapat digunakan sebagai biofertilizer dari
sumber cacing tanah adalah isolat e, g, dan k, sedangkan dari sumber rizosfer
padi adalah isolat 1, 13, dan 16.