Latar Belakang: Leukemia Limfoblastik Akut merupakan keganasan hematologi tersering pada anak dan memiliki risiko terjadinya relapse, yang merupakan penyebab utama kegagalan terapi. Keterlambatan diagnosis sering diduga berkontribusi terhadap luaran klinis seperti relapse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlambatan diagnosis dengan kejadian relapse pada anak dengan leukemia limfoblastik akut di RSUD Dr. Moewardi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectionalmenggunakan data primer dari kuesioner dan data sekunder rekam medis pasien anak penderita LLA periode bulan Januari 2022–Maret 2025. Sebanyak 34 sampel yang memenuhi kriteria inklusi diambil dengan teknik consecutive sampling. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi karakteristik sampel, dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan keterlambatan diagnosis dengan relapse pada anak dengan leukemia limfoblastik akut.Hasil: Sebagian besar responden mengalami keterlambatan diagnosis, namun hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara keterlambatan diagnosis dengan relapse (p=0.855). Variabel usia menunjukkan hubungan signifikan terhadap relapse (p=0.021), sedangkan jenis kelamin (p=0.577) dan kelompok risiko (p=0.336), tidak menunjukkan hubungan signifikan.Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara keterlambatan diagnosis dengan kejadian relapse pada anak dengan LLA di RSUD Dr. Moewardi. Variabel usia ditemukan memiliki hubungan signifikan, sementara jenis kelamin dan kelompok risiko tidak memiliki hubungan signifikan. Relapse diduga lebih dipengaruhi oleh faktor biologis dan respons terapi dibandingkan keterlambatan diagnosis.Kata Kunci: Leukemia Limfoblastik Akut, Anak, Keterlambatan Diagnosis, Relapse