Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit kronis progresif yang umumnya dipicu oleh paparan rokok. Indeks Brinkman digunakan untuk menilai beratnya paparan merokok, namun temuan terkait hubungannya dengan derajat keparahan PPOK berdasarkan GOLD masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara Indeks Brinkman dan derajat keparahan PPOK, serta mengidentifikasi faktor klinis lain yang berperan.Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien PPOK di RS UNS, mencakup Indeks Brinkman, hasil spirometri (%VEP₁), serta variabel klinis dan demografis. Analisis data dilakukan secara deskriptif, sementara hubungan antarvariabel diuji menggunakan uji Spearman, Chi-square, Kruskal–Wallis, dan Mann–Whitney sesuai karakteristik data.Hasil: Sebanyak 55 pasien dianalisis dengan rerata usia 64,58 ± 8,45 tahun, mayoritas laki-laki (96,4%) dan memiliki komorbid metabolik (36,4%) atau kardiovaskular (29,1%). Berdasarkan Indeks Brinkman, 30,9% termasuk kategori ringan, 43,6% sedang, dan 25,5% berat. Derajat keparahan PPOK terbanyak adalah GOLD 2 (40,0%) dan GOLD 1 (38,2%). Uji Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara Indeks Brinkman dan derajat keparahan PPOK (p = 0,237). Usia menunjukkan hubungan sangat kuat dan signifikan (p = 0,000). Komorbiditas berhubungan signifikan dengan derajat PPOK (p = 0,000), dan derajat PPOK lebih berat ditemukan pada pasien yang tidak menggunakan bronkodilator long-acting (p = 0,000). Variabel pendidikan, pekerjaan, dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan bermakna (p > 0,05).Simpulan: Indeks Brinkman tidak terbukti berhubungan dengan derajat keparahan PPOK pada penelitian ini. Faktor usia, komorbid, dan penggunaan bronkodilator long-acting lebih berperan dalam memengaruhi tingkat keparahan PPOK.