Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) Menganalisis kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Sambirejo dalam menghadapi bencana longsor. (2) Menganalisis kearifan lokal masyarakat dalam mitigasi bencana longsor di Kecamatan Sambirejo. Penelitian ini menggunakan metode mixed method atau campuran. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling. Teknik purposive sampling dipilih karena responden yang dipilih dianggap paling mengetahui kesiapsiagaan dan kearifan lokal terkait mitigasi bencana longsor sehingga mampu memberikan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Unit analisis yang digunakan yaitu desa. Teknik analisis data kesiapsiagaan menggunakan sebelas parameter menurut (Pinheiro et al., 2021) dengan penilaian menurut skala Guttman dan analisis kearifan lokal menggunakan 6 dimensi menurut (Jim Ife) dengan pendekatan menurut Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kesiapsiagaan bencana di Desa Musuk masuk klasifikasi tinggi dengan nilai 0,7 sedangkan Desa Jetis dan Desa Jambeyan masuk klasifikasi sedang dengan masing – masing nilai yaitu 0,63 dan 0,53. (2) Kearifan lokal dalam mitigasi bencana longsor, Desa Musuk lebih menonjol pada parameter pemanfaatan sumber daya lokal yaitu dengan memanfaatkan tanaman andong (Cordyline fruticosa) sebagai pengurangan bencana longsor, pembuatan bronjong dari batu dan patok dari bambu. Desa Jetis unggul pada indikator partisipasi masyarakat yaitu gotong royong, menanam pohon, bersih-bersih saluran, dan kewaspadaan terhadap potensi bencana longsor. Desa Jambeyan unggul dalam pengetahuan lokal pada indikator keberadaan aktivitas tambang yang dapat menyebabkan terjadinya longsor. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Sambirejo sangat beragam. Kearifan lokal memiliki peran penting dalam melakukan mitigasi bencana longsor dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada.