Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai pemiliki luasan lahan gambut di dunia setelah Canada, Rusia, dan Amerika Serikat. Sebaran lahan gambut Indonesia mayoritas terletak di Pulau Sumatera. Riau menjadi salah satu provinsi terbesar yang memiliki luasan lahan gambut sekitar 3.867.414 ha. Tingginya potensi gambut yang dimiliki oleh Provinsi Riau dirasa belum mampu menggerakkan perekonomian masyarakat Riau terutama daerah pinggiran yang memiliki akses lahan gambut luas. Salah satu Kabupaten yang memiliki akses lahan gambut cukup besar ialah Kabupaten Pelalawan. Kabupaten Pelalawan pula merupakan salah satu kabupaten yang terdampak cukup besar dari kebakaran lahan 2015 silam. Potensi lahan gambut di Kabupaten Pelalawan sejauh ini hanya dijadikan sebagai perkebunan masyarakat. Pergerakan perekonomian belum terlalu kentara apabila masyarakat hanya bergantung pada hasil kebun saja. Perlu adanya gebrakan pengembangan perekonomian yang mampu mengolah potensi lokal menjadi suatu keuntungan. Pergerakan tersebut dapat dimulai dengan adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui BUMDes diharapkan mampu menggerakkan potensi desa dan memberdayakan masyarakat dengan tujuan tidak lain ialah kesejahteraan masyarakat. Begitu pula yang diharapkan oleh BUMDes Desa Merbau. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam pengembangan yang dihadapi pengurus BUMDes Desa Merbau ; mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman dalam pengembangan yang dihadapi pengurus BUMDes Desa Merbau ; dan merumuskan alternatif strategi pengembangan BUMDes yang dapat direkomendasikan kepada pengurus BUMDes Desa Merbau. Metode dasar yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan jenis data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan pencatatan. Metode analisis data menggunakan Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, dan Matriks SWOT. Hasil penelitian berdasarkan skor matriks IFE diketahui kekuatan terbesar ialah adanya hubungan baik antara pengurus dan pemerintah desa dan kelemahan terbesar yaitu keterbatasan sumberdaya pengurus dalam manajemen. Skor matriks EFE menunjukkan peluang terbesar adalah potensi dan kreativitas masyarakat masih bisa dikembangkan dan ancaman terbesar ialah partisipasi masyarakat yang rendah. Berdasarkan analisis Matriks IE, pengembangan BUMDes Desa Merbau pada sel II yaitu tumbuh dan berkembang dengan strategi yang dapat dikembangkan adalah intensif dan integratif. Alternatif strategi pengembangan BUMDes dirumuskan dalam Matriks SWOT yang menghasilkan beberapa alternative strategi dengan perpaduan antara SO, WO, ST, dan WT.