Jagung pulut (Zea mays var. ceratina L.) merupakan salah satu jenis jagung
lokal yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas lain yaitu memiliki
kandungan amilopektin tinggi yang menjadikan citarasa jagung pulut lebih enak,
pulen, gurih, dan lembut. Jagung pulut menjadi komoditas pangan bernilai
ekonomi tinggi dan berpeluang dikembangkan sebagai sumber utama karbohidrat.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan terjadi penurunan produksi jagung
sebesar 2 ton pada tahun 2022 hingga 2023. Upaya peningkatan pertumbuhan
tanaman jagung termasuk jagung pulut dapat dilakukan dengan perbaikan
pengairan dan pemberian zat pengatur tumbuh. Pemberian air secara tepat
menjadi salah satu cara pemenuhan ketersediaan air sehingga proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat berjalan baik. Daun kelor
mengandung unsur hara makro serta mikro, sitokinin, zeonin, fenolik, antioksidan
alami, dan mineral sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan tanaman
sebagai zat pengatur tumbuh alami. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan
memahami pengaruh frekuensi penyiraman dan ekstrak daun kelor terhadap
pertumbuhan dan fisiologi jagung pulut URI 1.
Penelitian dilaksanakan pada Screenhouse di Desa Jati, Kecamatan Jaten,
Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah dari bulan September– Desember
2024. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap
(RAKL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu, faktor pertama frekuensi
penyiraman yang terdiri atas 3 taraf yaitu 2 hari sekali (A1), 4 hari sekali (A2), dan
6 hari sekali (A3), faktor kedua adalah ekstrak daun kelor terdiri dari 4 taraf yaitu
tanpa ekstrak (K0), 150 g/L (K1), 300 g/L (K2), dan 450 g/L (K3). Dari kedua faktor
tersebut dihasilkan 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, dan
diperoleh 36 satuan percobaan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah
daun, diameter batang, luas daun, bobot segar brangkasan, bobot kering
brangkasan, akar terpanjang, laju asimilasi bersih, jumlah stomata, lebar bukaan
stomata, kandungan klorofil, kehijauan daun, laju fotosintesis, laju transpirasi, dan
konduktansi stomata. Analisis data menggunakan sidik ragam ANOVA dengan
taraf 5%. Apabila hasil analisis menunjukkan beda nyata akan diuji lanjut dengan
menggunakan DMRT taraf 5%. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui
korelasi atau hubungan antar peubah pengamatan.
Hasil penelitian menunjukkan frekuensi penyiraman dengan pemberian
ekstrak daun kelor pada beberapa konsentrasi memberikan hasil yang sama pada
pertumbuhan dan fisiologis jagung pulut URI 1. Frekuensi penyiraman 2 hari sekali
mampu meningkatkan tinggi tanaman (169,77 cm), bobot segar brangkasan
(217,39 g), dan bobot kering brangkasan (79,23 g). Frekuensi penyiraman 4 hari
sekali mampu meningkatkan akar terpanjang (85,42 cm) dan laju fotosintesis (9,49
µmol/m2/s). Frekuensi penyiraman 6 hari sekali mampu meningkatkan lebar
bukaan stomata (7,95 μm). Pemberian ekstrak daun kelor 450 g/L mampu
meningkatkan tinggi tanaman (172,78 cm) jagung pulut URI 1. Berdasarkan uji
korelasi, tinggi tanaman berkorelasi negatif dengan laju transpirasi dan
konduktansi stomata. Bobot segar brangkasan berkorelasi positif dengan bobot
kering brangkasan dan akar terpanjang. Laju transpirasi berkorelasi positif dengan
konduktansi stomata.