Rosela merupakan tanaman penghasil antosianin dengan nilai ekonomi
dan kesehatan yang tinggi, namun pemanfaatan potensinya di Indonesia masih
rendah akibat menurunnya luas lahan budidaya dan produktivitas. Pemanfaatan
lahan pasir pantai sebagai lahan suboptimal menjadi alternatif pengembangan
rosela, meskipun memiliki keterbatasan hara dan bahan organik. Penggunaan
Pupuk Organik Cair (POC) urine kelinci berpotensi meningkatkan pertumbuhan
dan hasil rosela, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan
cara pemberian POC. Hingga saat ini, kajian mengenai Respons pertumbuhan
dan hasil rosela terhadap kombinasi konsentrasi dan cara pemberian POC urine
kelinci pada media pasir pantai masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pengaruh konsentrasi, cara pemberian, serta interaksinya terhadap
pertumbuhan dan hasil rosela pada media pasir pantai.
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca A Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan beberapa laboratorium pendukung
Fakultas Pertanian UNS pada bulan Desember 2024 hingga Mei 2025. Penelitian
menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
faktorial yang terdiri atas dua faktor, yaitu cara pemberian POC urine kelinci
(disiram dan disemprot) serta konsentrasi POC (0, 45, 60, 75, dan 90 mL L⁻¹),
dengan tiga ulangan. Media tanam yang digunakan berupa pasir pantai yang
diperkaya pupuk kandang. Pengamatan meliputi parameter pertumbuhan,
fisiologis, dan hasil tanaman rosela, termasuk kadar antosianin kelopak. Data
dianalisis menggunakan analisis ragam (Anova) pada taraf 5%, dan apabila
terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT)
taraf 5%. Hubungan antar variabel dianalisis dengan uji korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pemberian POC tidak
berpengaruh terhadap seluruh parameter yang diukur. Pemberian dangan cara
disiram dinilai lebih efisien dari segi waktu, tenaga, dan kemudahan sehingga
direkomendasikan untuk kegiatan budidaya. Cara pemberian POC urine kelinci
baik disiram maupun disemprot memberikan respon yang sebanding pada seluruh
parameter pengamatan rosela di media pasir pantai. Konsentrasi POC urine kelinci
dapat meningkatkan parameter tinggi tanaman pada usia 7 MST (72,17 cm), bobot
segar tajuk 16 MST (193,81 g), bobot kering tajuk 7 MST (44,38 g) dan 16 MST
(37,97 g), serta laju transpirasi (0,0481 µmol m−2 s−1) pada rosela di media pasir
pantai. Konsentrasi optimum diperoleh pada 75 mL L⁻¹. Interaksi cara pemberian
dan konsentrasi POC urine kelinci memengaruhi rasio tajuk–akar rosela pada
umur 7 MST di media pasir pantai. Kandungan antosianin kelopak rosela
menunjukkan respons yang berbeda terhadap cara dan konsentrasi pemberian
POC di media pasir pantai. Uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan antar
parameter vegetatif meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, serta bobot
segar dan bobot kering tajuk menunjukkan hubungan yang positif, tetapi tidak
signifikan. Sementara itu, parameter produktivitas rosela yang meliputi jumlah dan
ukuran kelopak memiliki hubungan yang lemah dengan parameter vegetatif
maupun fisiologis tanaman.