Pengemis masih menjadi persoalan sosial di Kota Surakarta. Keberadaanya terkadang
tidak diterima oleh masyarakat. Namun,
mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan sedekah, dan membuat kesan
agar orang lain merasa iba. Saat berada di rumah mereka menjadi masyarakat pada
umumnya. Tanpa ada kepura-puraan. Bahkan tidak menutup kemungkinan mempunyai
uang banyak, atau barang berharga dari hasil mengemis. Realitas tersebut
menarik untuk dikaji, karena pengemis menjadi profesi yang menjanjikan
tergantung bagaimana memainkan peran, atau mengekspresikan diri dihadapan orang
lain. Tujuan penelitian ini hendak mengkaji kehidupan
sosial pengemis di panggung depan (front
stage), dan panggung belakang (back
stage) yang bertempat tinggal di Kelurahan Joyotakan, Serengan, Surakarta,
menggunakan Teori Dramaturgi oleh Erving Goffman. Penelitian kualitatif
ini menggunakan metode naturalistic inquiry. Teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive samping,
dan snowball sampling. Informan
penelitian yaitu mereka yang berprofesi sebagai pengemis. Pengumpulan data menggunakan observasi, dan wawancara mendalam.
Validitas data menggunakan triangulasi sumber dengan mantan pengurus LSK Bina
Bakat, dan Ketua RT setempat. Teknik analisis data menggunakan model analisis
interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa di front
stage aktor berperan sebagai Me,
agar dapat diterima audien. Setting
mengemis di objek vital kota seperti Masjid Agung, area PGS-BTC, area Tugu
Lilin, Polsek Jebres, Matahari Singosaren, Indomaret Tipes, dan di acara wisuda
kampus UNS, dan UMS. Dalam penampilan menggunakan
beberapa atribut berupa atribut religi(kerudung, dan tasbih), atribut pendukung(anak,
tas selempang, gelas plastik, dan jarik), dan atribut umum(kaos, daster, jaket,
sandal, dan pakaian bersih). Mereka melakukan permainan suara, gestur, dan mimik
sebagai gaya mengemis. Saat di back stage pengemis berperan sebagai I, tanpa ada audien. Hasil penelitian ditemukan
2 bagian di back stage yaitu physical back stage, dan social back stage. Di physical back stage mereka memiliki
barang berharga seperti peralatan elektronik, alat komunikasi, maupun kendaraan
bermotor. Di social back stage mereka
mengikuti berbagai kegiatan di kampungnya(poskamling, PKK, kerja bakti, rewang,
dan jenguk orang sakit), dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Kesimpulan penelitian,
secara teori aktor akan memainkan peran sebagai Me di front stage. Namun
realitasnya I juga dapat terlihat, ketika aktor menghadapi
gangguan-gangguan dalam suatu pertunjukkan. Gangguan tersebut berupa penolakan
kehadiran aktor, bahkan aktor mendapatkan stigma diskredit dari audien,
sehingga I muncul sebagai respon
terhadap gangguan tersebut. Dalam kehidupan sosial aktor di back stage, akan nampak diri manusiawi
mereka sebagai I. Namun, aktor
terkadang menjadi Me terlihat pada
saat harus mengikuti kegiatan sosial yang menjadi norma dalam masyarakat.
Kata
kunci : Profesi Pengemis, Front Stage, Back Stage.