| Penulis Utama | : | Ismiyati |
| NIM / NIP | : | T642208009 |
Secara global, tingkat kejadian pelecehan/kekerasan seksual pada anak sekitar 7,6–7,9% untuk anak laki-laki dan 18,0–19,7% terjadi pada anak perempuan. Kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia juga menjadi sorotan khusus karena 4 dari 100 anak laki-laki dan 8 dari 100 anak perempuan usia 13 – 17 tahun mengalami kekerasan seksual. Pada tahun 2021 jumlah kekerasan seksual pada anak sebanyak 8.730 anak dan tahun 2022 sebanyak 9.588 anak. Kenaikan jumlah kasus kekerasan seksual pada anak juga terjadi di Provinsi Banten. Pada tahun 2021, Provinsi Banten masuk kedalam sepuluh Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak pada kekerasan seksual anak yaitu sebesar 349 anak. Jumlah kasus tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2022 di Provinsi Banten yaitu sebanyak 440 anak dan menduduki lima Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak.Upaya pencegahan banyak difokuskan pada anak karena anak-anak berisiko sebagai calon korban. Namun, tindakan-tindakan tersebut merupakan perilaku yang sulit dan kompleks untuk dilakukan bahkan pada orang dewasa sekalipun. Oleh karena itu, keterbatasan pendekatan pencegahan kekerasan seksual yang berfokus pada anak membutuhkan perluasan sasaran dalam upaya pencegahannya. Pengasuh anak yang paling utama adalah orang tua di dalam sebuah keluarga. Orang tua merupakan sumber informasi utama dalam mengenalkan pelecehan/kekerasan seksual pada anak. Interaksi orang tua-anak yang efektif dapat dilakukan dengan cara mempromosikan kehangatan hubungan orang tua ke anak dan kontrol yang tegas tetapi tidak keras. Orang tua memiliki peranan penting terhadap anak sehingga keterlibatannya dalam pencegahan kekerasan seksual sangat dibutuhkan. Dalam hal ini program yang ada tentunya dibutuhkan untuk membangun kapasitas orang tua untuk mendorong komunikasi orang tua-anak tentang pencegahan kekerasan seksual serta mampu merespon anak untuk dapat mengungkapkan terjadinya kekerasan seksual. Program pencegahan kekerasan seksual pada anak yang melibatkan partisipasi orang tua akan membantu memperbaiki kemampuan orang tua, efikasi diri, pengetahuan, sikap, niat, dan perilakunya dalam melindungi anaknya dari bahaya kekerasan seksual.Penelitian ini secara umum memiliki tujuan untuk menganalisis kekerasan seksual pada anak dan memperoleh model pemberdayaan orang tua dalam memperkuat persepsi orang tua untuk memberikan perlindungan anak terhadap kekerasan seksual di Kabupaten Lebak. Penelitian ini menggunakan rancangan embedded design. Pendekatan pada penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian potong lintang (cross sectional), sedangkan pendekatan yang digunakan pada desain kualitatif adalah studi kasus (case study). Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar (SD) yang ada di Kabupaten Lebak Provinsi Banten dengan empat kecamatan. Sampel penelitian kuantitatif ini adalah orang tua (ibu dan ayah) yang anaknya berusia 10 – 12 tahun dan sedang menempuh pendidikan sekolah dasar di wilayah Kabupaten Lebak (218 orang). Jumlah informan sebanyak 22 orang yang terdiri dari korban kekerasan seksual, orang tua korban, guru, Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga, Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat dan Bidang Pendidikan Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, dan Penanggung jawab kelompok kerja (pokja) Komisi Perlindungan Anak Indonesia Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode probability sampling dengan teknik Multistage Random Sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif menggunakan Structural Equation Modeling (SEM).Hasil studi kasus yang ditemukan pada penelitian kualitatif ini terdapat 4 korban berjenis kelamin laki-laki (57,15%) dan 3 korban adalah perempuan (42,85%). Mayoritas (85,71%) kasus kekerasan seksual yang terjadi pengungkapannya tertunda. Hanya pada 1 korban (14,29%) yang mampu mengungkapkan kasus setelah kejadian. Sifat dan kondisi fisik menjadikan salah satu alasan utama pada korban tidak memiliki keberanian untuk melawan pelaku. Korban yang masih anak-anak dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan pelaku yang dianggap lebih besar, sangar, dan lebih kuat. Secara usia pelaku dalam kasus ini semuanya lebih tua dari pada korban, walaupun dalam kasus ini terdapat pelaku dengan usia anak-anak (15 tahun) dengan status sebagai pelajar. Semua pelaku (100%) merupakan orang yang dikenal oleh korban ataupun keluarga korban.Hasil penelitian kuantitatif didapatkan bahwa interaksi, persepsi, dan pemberdayaan memiliki pengaruh positif secara langsung terhadap orang tua dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak (p=0.000), sedangkan dukungan sosial tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap perilaku orang tua (p=0,987), tetapi memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku melalui pemberdayaan dan persepsi (p=0,003). Hasil juga menunjukkan bahwa pemberdayaan orang tua memiliki pengaruh positif terhadap persepsi orang tua (p=0.000). Akan tetapi berbeda hal nya dengan interaksi orang tua (p=0,935) dan dukungan sosial (p=0,098) yang tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap persepsi orang tua. Berdasarkan Importance-performance Map Analysis (IPMA) menunjukkan bahwa pemberdayaan dan persepsi orang tua merupakan variabel yang sangat penting karena memilik total efek yang besar (pemberdayaan=0.521; persepsi=0.411; rata-rata=0.350), akan tetapi performa variabel pemberdayaan pada saat ini masih rendah (60.601; rata-rata=67,628). Proses pemberdayaan orang tua yang menjadi perhatian adalah pengembangan kapasitas/PK (Capacity Building) dan penyesuaian struktural/PS (structural adjustment) karena memiliki performa yang rendah (PK=54.632; PS=41.780; rata-rata=61.548) tetapi variabel manifest tersebut memiliki total efek yang tinggi karena diatas rata-rata (PK=0.172; PS=0.204; rata-rata=0.134).Peluang proses pemberdayaan orang tua dalam penelitian ini dilihat dari dua sudut pandang yaitu kelembagaan dan orang tua. Pada sudut pandang kelembagaan, peluang proses pemberdayaan orang tua dalam pencegahan kekerasan seksual anak dipengaruhi oleh adanya program terintegrasi antar lembaga pemerintah dan swasta, adanya keterbukaan dalam kerjasama program antar Instansi Pemerintah dan Swasta, penggunaan media elektronik (digital) dalam penyebaran informasi, dan memiliki kader yang berpengalaman. Berdasarkan sudut pandang orang tua, peluang proses pemberdayaan orang tua dipengaruhi oleh kepercayaan orang tua terhadap suatu lembaga/instansi, adanya dukungan kelompok sebaya (kelompok orang tua), dan mayoritas orang tua menggunakan media digital.Hambatan lembaga dalam proses pemberdayaan orang tua tentang pencegahan kekerasan seksual anak dipengaruhi oleh anggaran, sumber daya manusia (SDM), dan kordinasi antar lembaga. Sementara hambatan proses pemberdayaan orang tua dalam pencegahan kekerasan seksual anak dipengaruhi oleh pemahaman terhadap materi kekerasan seksual pada anak, stigma tentang pencegahan kekerasan seksual anak di masyarakat, kesibukan orang tua, dan pemanfaatan fitur media digital. Hampir semua orang tua memiliki handphone (Hp). Bahkan tipe Hp yang orang tua miliki adalah jenis Smart Phone. Hanya saja sebagian dari orang tua tidak memahami dalam penggunaan aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam mencari ataupun mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan seksual pada anak.Rumusan model yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa perilaku orang tua dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak dapat dioptimalkan dengan memperkuat persepsi orang tua, proses pemberdayaan, dan interaksi keluarga. Proses pemberdayaan orang tua dalam mencegah kekerasan seksual yang ada tentu saja tidak lepas dari dukungan sosial dari teman, guru, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, dan pemangku desa. Proses pemberdayaan juga membutuhkan kolaborasi antar lembaga untuk dapat mengatasi hambatan terkait dengan anggaran serta sumber daya manusia, sehingga dengan hal ini akan memperluas sasaran ataupun cakupan pemberdayaan. Pengembangan kapasitas dalam proses pemberdayaan orang tua juga perlu diperkuat dengan materi pencegahan kekerasan seksual anak yang sesuai dan lengkap termasuk mencantumkan aspek hukum yang berlaku. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga menjadi bagain penting dalam mengoptimalkan proses pemberdayaan.
| Penulis Utama | : | Ismiyati |
| Penulis Tambahan | : | - |
| NIM / NIP | : | T642208009 |
| Tahun | : | 2026 |
| Judul | : | Pemberdayaan Orang Tua Berbasis Penguatan Persepsi dalam Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak di Kabupaten Lebak Provinsi Banten |
| Edisi | : | |
| Imprint | : | Surakarta - Sekolah Pascasarjana - 2026 |
| Program Studi | : | S-3 Penyuluhan Pembangunan (Promosi Kesehatan) |
| Kolasi | : | |
| Sumber | : | |
| Kata Kunci | : | Pemberdayaan Orang Tua, Persepsi, Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak |
| Jenis Dokumen | : | Disertasi |
| ISSN | : | |
| ISBN | : | |
| Link DOI / Jurnal | : | https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2590291126004523 |
| Status | : | Public |
| Pembimbing | : |
1. Prof. Dr. Suminah, M.Si 2. Dr. Ika Sumiyarsi Sukamto, S.SiT,M.Kes 3. Prof. Dr. Argyo Demartoto, M.Si |
| Penguji | : |
1. Prof. Dr.rer.nat. Sajidan, M.Si. 2. Dr. Ir. Sapja Anantanyu, SP., M.Si. 3. Prof. Dr. Purwati, M.S., Kons. |
| Catatan Umum | : | Naskah ini telah dipublikasikan di jurnal Social Sciences & Humanities Open dengan DOI https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2026.102887 |
| Fakultas | : | Sekolah Pascasarjana |
| Halaman Awal | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
|---|---|---|
| Halaman Cover | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB I | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB II | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB III | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB IV | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB V | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| BAB Tambahan | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| Daftar Pustaka | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |
| Lampiran | : | Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download. |