Tok wi merupakan kain altar leluhur masyarakat Tionghoa
yang memiliki fungsi ritual serta mengandung nilai filosofis dan simbolik
yang kuat. Namun, penggunaan Tok wi dalam praktik pernikahan Tionghoa masa
kini semakin berkurang akibat perubahan gaya hidup,
penyederhanaan prosesi adat, dan dominasi estetika pernikahan Barat. Kondisi
serupa juga terjadi pada penggunaan busana upacara sangjit tradisional yang
mulai ditinggalkan oleh generasi saat ini. Berdasarkan kondisi tersebut, perancangan ini bertujuan merancang busana upacara sangjit yang
mengadaptasi elemen visual dan simbolisme Tok wi agar tetap relevan dengan
estetika masa
kini sekaligus menjadi media revitalisasi nilai budaya
Tionghoa.
Metode
penciptaan yang digunakan adalah metode penciptaan seni kriya tiga tahap oleh
S.P. Gustami yang meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan.
Pendekatan perancangan menggunakan metode ATUMICS oleh Adhi Nugraha yang
mencakup aspek Artefact, Technique, Utility, Material, Icon, Concept,
dan Shape sebagai dasar identifikasi masalah, perumusan konsep desain,
serta evaluasi hasil perancangan. Pengumpulan data dilakukan melalui
observasi artefak Tok wi, studi pustaka, studi visual, wawancara dengan tokoh
budaya dan desainer busana sangjit, serta eksperimen motif, bentuk, teknik
dan material. Tahap eksplorasi meliputi identifikasi permasalahan dan
perumusan konsep desain berdasarkan tujuh aspek ATUMICS. Tahap perancangan
meliputi pembuatan alternatif desain, pemilihan desain terpilih, dan
finalisasi desain hingga gambar teknik. Tahap perwujudan meliputi proses
produksi serta evaluasi produk berdasarkan aspek ATUMICS.
Hasil perancangan menunjukkan bahwa nilai simbolik Tok
wi dapat ditransformasikan ke dalam busana upacara sangjit masa
kini melalui penerapan teknik bordir dan payet fringe. Perancangan ini menghasilkan lima alternatif desain
busana yang memiliki nilai estetis, simbolik, dan fungsional sebagai bentuk
revitalisasi budaya dalam fesyen.
Temuan dalam perancangan ini menunjukkan bahwa adaptasi
elemen visual dan filosofi Tok wi pada busana upacara sangjit mampu
menghadirkan inovasi desain yang tetap mempertahankan identitas budaya
Tionghoa. Selain itu, penerapan metode S.P Gustami dan ATUMICS membantu proses transformasi unsur tradisi ke
dalam desain
yang sesuai dengan selera masa kini.