Perkembangan Kota Surakarta yang pesat mendorong pergeseran kawasan perkotaan
ke wilayah peri-urban, khususnya Kecamatan Kartasura, Baki, Grogol dan
Mojolaban. Keterbatasan lahan di Kota Surakarta menciptakan ekspansi perkotaan
ke wilayah sekitarnya yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi lahan
terbangun. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifkasi persebaran lahan terbangun
wilayah peri-urban Kota Surakarta, (2) menganalisis autokorelasi spasial ekspansi
perkotaan Kota Surakarta tahun 2018-2025 (3) menganalisis pembentukan zonasi
wilayah peri-urban Kota Surakarta tahun 2025, serta (4) menganalis hubungan
kesesuaian antara autokorelasi spasial dengan zonasi wilayah peri-urban di
Kecamatan Kartasura, Baki, Grogol dan Mojolaban tahun 2025. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif-kuantitatif dengan pendekatan spasial. Sumber data
penelitian adalah lahan terbangun dan non-terbangun yang diperoleh dari citra
Sentinel-2A. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan autokorelasi spasial
global (Moran’s Index I) dan lokal (LISA-Local Indicators of Spatial Association),
zonifikasi wilayah peri-urban berdasarkan teori Yunus (2008) dengan
mempertimbangkan proporsi lahan terbangun dan non-terbangun, serta analisis
hubungan kesesuaian autokorelasi spasial dan zonifikasi wilayah peri-urban. Hasil
penelitian menunjukkan persebaran lahan terbangun terkonsentrasi tinggi dengan
pola mengelompok di wilayah yang lebih dekat dengan pusat kota dan menurun pada
wilayah yang lebih jauh dengan pola menyebar. Analisis autokorelasi spasial global
menunjukkan pola mengelompok (clustered), sedangkan analisis lokal (LISA)
mengidentifikasi titik hotspot klaster High-High (HH) yang jauh dari pusat kota dan
Low-Low (LL) mengelompok di wilayah yang berdekatan dengan pusat kota.
Zonifikasi wilayah peri-urban menunjukkan bahwa wilayah penelitian di dominasi
oleh Zobikodes dan Zobidekot. Hubungan kesesuaian membuktikan bahwa tidak
semua wilayah dengan tekanan ekspansi tinggi memiliki kesesuaian dengan zonasi
yang terbentuk. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persebaran lahan terbangun
mengalami peningkatan serta pergeseran dari wilayah yang berdekatan dengan Kota
Surakarta ke wilayah peri-urban yang lebih jauh. Analisis autokorelasi spasial
menunjukkan pola mengelompok dengan indikasi kejenuhan ekspansi di wilayah
yang dekat dengan pusat kota. Berdasarkan kondisi eksisting tahun 2025, zonifikasi
didominasi oleh zona transisi. Sementara itu, hubungan kesesuaian menunjukkan
bahwa tekanan ekspansi perkotaan di wilayah peri-urban tidak pasti selaras dengan
struktur zonasi yang terbentuk, sehingga menegaskan bahwa dinamika ekspansi
perkotaan di wilayah peri-urban Kota Surakarta berkembang secara dinamis dan
tidak merata antarwilayah.