Program
CSR kini dituntut untuk tidak hanya berorientasi pada bantuan fisik, tetapi
juga mampu membangun keberdayaan komunitas secara berkelanjutan. Namun, banyak
program masih menerapkan pola komunikasi top-down yang membatasi
partisipasi masyarakat. Kondisi tersebut menjadi alasan dan urgensi penelitian
ini, yakni untuk menelaah bagaimana model komunikasi partisipatif multi-track
Tufte & Mefalopulos diterapkan pada Program CSR Mas Sopili PT Pertamina
Patra Niaga AFT Adi Sumarmo dalam upaya pemberdayaan komunitas di Desa
Sobokerto, Boyolali. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola dan
bentuk komunikasi yang muncul dalam setiap fase program yakni perencanaan,
pelaksanaan, penerimaan manfaat, dan evaluasi, serta melihat kontribusinya
terhadap peningkatan keberdayaan kelompok binaan. Penelitian menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta menggunakan teknik pengumpulan
data berupa wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Analisis
dilakukan menggunakan model komunikasi partisipatif multi-track oleh
Tufte & Mefalopulos serta konsep pemberdayaan komunitas. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa program Mas Sopili menerapkan kombinasi komunikasi monologis
dan dialogis secara adaptif. Pada fase awal, Pertamina menggunakan komunikasi
informatif untuk mengenalkan program dan prosedur, namun selanjutnya memberikan
ruang dialog yang memungkinkan kelompok mengusulkan, memodifikasi, bahkan
menolak program yang tidak sesuai kebutuhan. Kombinasi dua jalur ini
menghasilkan partisipasi yang signifikan, memperkuat kapasitas kelompok, serta
meningkatkan keberdayaan pada lima tingkatan yakni pemenuhan kebutuhan dasar,
akses sumber daya, kesadaran potensi diri, partisipasi aktif, dan menjadi aktor
dalam perubahan lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perpaduan kedua
jalur komunikasi menciptakan dinamika komunikasi yang lebih fleksibel dan
berorientasi pada kebutuhan kelompok. Kesimpulannya, penerapan model multi-track
dalam program Mas Sopili terbukti mendorong proses pemberdayaan yang lebih
efektif. Keberhasilan program ditopang oleh fleksibilitas kedua jalur
komunikasi yang digunakan serta dominasi dialog dua arah. Temuan ini menegaskan
pentingnya strategi komunikasi partisipatif yang fleksibel dan adaptif dalam
program CSR berbasis pemberdayaan.